Doa Puasa Dzahabad dhoma juga dhoif
DOA BUKA PUASA DZAHABAT ADDHAMAU' TERNYATA DO'IF.
Oleh: M. Rofiannur Al Hamaamuh, SN, DH.
A. PEMBUKAAN.
Setiap bulan ramadhan tiba, ada saja kelompok yang membuat kekeruhan ditengah tengah keharmonisan kaum muslimin. Salah satu contoh dari kerusakan yang mereka buat adalah mereka menyalahkan doa berbuka puasa yang sering dilantunkan oleh kaum muslimin yaitu doa berikut ini;
اللَّهُمَ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفَطَرْةُ.
Menurut mereka doa buka puasa yang maha sahih adalah doa berikut ini;
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.
Berawal dari disinilah, lahir slogan mereka yang sangat populer dibulan ramadhan; Doa buka puasa yang sahih/sesuai sunnah. Dan tidak jarang mereka mencoret dan memberikan tanda silang padang doa pertama tadi. Naudzubillah.
Padahal, kedudukan hadist "ذَهَبَ الظَّمَأُ" ini juga do'if tidak Hasan ataupun sahih. Berikut adalah ulasannya.
B. DI AKUI DO'IF OLEH ULAMA WAHHABI.
Hadist doa buka puasa ذَهَبَ الظَّمَأُ ini telah diakui terdapat kelemahan oleh ulama besar wahhabisme yaitu Syaikh Soleh Ibnu Utsaimin. Berikut ungkapan nya;
والدعاء المأثور : اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت ومنه أيضاً قول النبي عليه الصلاة والسلام: «ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله . وهذان الحديثان وإن كان فيهما ضعف لكن بعض أهل العلم حسنهما، وعلى كل حال فإذا دعوت بذلك أو بغيره عند الإفطار فإنه موطن إجابة.
Artinya: Doa yang ma'tsur adalah: Allahumma laka shumtu wa Alaa Rizqika Afthartu dan diantara lagi adalah ucapan Nabi Alaihi Asshalatu Wa Assalam: Dzahabat Addhamau' Wabtallat Al 'Uruqu wa Tsabata Al Ajru Inshaa Allah. Dan kedua hadist ini mengandung kelemahan/kedo'ifan. Akan tetapi, para ahli ilmu telah menghasankan keduanya. Dan meskipun demikian apabila seseorang berdoa dengan doa tersebut ataupun dengan selainnya ketika berbuka. Maka, sesungguhnya disitu adalah waktu ijabah.
[Majmu' Fatawa Libni Utsaimin: 19/363]
Disini Syaikh Soleh Ibnu Utsaimin Al Wahhabi jujur mengatakan bahwasanya kedua hadist tersebut adalah hakikatnya sama sama lemah. Akan tetapi, kedua hadist ini telah di hasankan oleh para ahli ilmu. Namun, kenyataan ini tolak oleh sebagian besar Wahhabisme dan mereka hanya menganggap yang hasan/sahih hanya hadist ذَهَبَ الظَّمَأُ saja dan hadist اللَّهُمَ لَكَ صُمْتُ adalah lemah.
Padahal, fatwa Syaikh Muhammad Soleh Ibnu Utsaimin tadi sudah menengahi polemik doa buka puasa ini, yaitu para ahli ilmu sudah menghasankan kedua hadist doa buka puasa tersebut. Dengan demikian, seharusnya tidak lagi kita mempermasalahkan hal hal lama seperti ini disetiap bulan Ramadhan. Sebab, semuanya sudah ada jawabannya.
Dan izinkanlah kami memberitahukan letak kedo'ifan hadist ذَهَبَ الظَّمَأُ ini yang katanya hadist ini maha sahih disisi mereka.
C. HADIST ذَهَبَ الظَّمَأُ ADALAH LEMAH KARENA ADA DUA RAWI YANG BERMASALAH.
Menurut wahhabisme, doa buka puasa yang maha sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Annasa'i. Baik, mari kita ikuti cara berpikir mereka sejenak.
Al Imam Abu Dawud (W 275 H) meriwayatkan;
۲۲- بَابُ الْقَوْلِ عِنْدَ الْإِفْطَارِ
٥ [٢٣٤٥] حدثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ ، أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ ، يَعْنِي : ابْنَ سَالِمِ الْمُقَفَّعَ ، قَالَ : رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَتْ عَلَى الْكَفْ ، وَقَالَ : كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : ذَهَبَ الظَّمَأُ ، وَابْتَلَتِ الْعُرُوقُ ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.
Artinya: 22 - Bab bacaan ketika berbuka.
5 [2345] - Abdullah bin Muhammad bin Yahya telah menceritakan pada kami, Ali bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami, Al Husein bin Waqid telah mengabarkan kepada kami, Marwan yakni Ibnu Salim Al Muqaffa' telah menceritakan kepada kami, beliau berkata; Aku pernah melihat Ibnu Umar menggenggam janggutnya lalu beliau memotong yang berlebih dari telapak tangannya. Dan beliau berkata; Nabi Sallahu Alaihi Wa Sallam apabila berbuka beliau berkata; Dzahabat Addhamau', Wabtallat Al 'Uruqu wa Tsabata Al Ajru Inshaa Allah.
[Sunan Abu Dawud: 4/284-285]
Kemudian, Al Imam Annasa'i (W 303 H) juga meriwayatkan;
١١٥ - ما يقولُ إِذا أَفطَرَ
٣٣١٥- أخبرني قريش بن عبد الرحمن، قال: أخبرنا علي بن الحسن، قال: أخبرنا الحسين بن واقد، قال: أخبرنا مروان المقفع، قال: رأيت عبد الله بن عمر قَبَضَ على لِحيَتِه، فَقَطَع ما زاد على الكف، وقال: كان رسول الله ﷺ إذا أفطَرَ ، قال : ذَهَبَ الظَّمَأُ ، وابتلتِ العروق، وثبت الأجر إن شاء الله.
[Assunan Al Kubra Linnasa'i: 3/374]
Letak kedo'ifan kedua hadist yang diriwayatkan oleh dua imam tadi adalah terletak pada rawinya, yaitu ada dua periwayat yang bermasalah disana, yakni; Al Husein bin Waqid dan Marwan bin Salim Al Muqaffa'. Berikut adalah penjelasannya.
C1. HUSEIN BIN WAQID ADALAH RAWI YANG BERMASALAH.
Husein bin Waqid adalah rawi yang bermasalah. Ia memiliki berbagai hal hal yang mungkar, imam Ahmad mengingkarinya hadist hadistnya, riwayatnya selalu dicurigai meskipun ia jujur karena banyak salahnya dan ulama ahli hadist akhirnya melemahkannya.
Al Imam Al Marrudzi (W 275 H) mengatakan:
٤٤٤ - حدثنا الميموني قال : قال أبو عبد الله : حسين بن واقد له أشياء مناكير.
Artinya: 444 - Al Maumuni telah menceritakan pada kami, beliau berkata: Abu Abdullah berkata: Husein bin Waqid memiliki berbagai perkara perkara yang mungkar.
[Al Ilal Wa Ma'rifah Arrijal: 1/228]
Al Imam Al Uqaili (W 322 H) menuliskan;
حدثنا أحمد بن أصرم بن خزيمة المزني]، قال: سمعت أحمد بن حنبل وقيل له في حديث أيوب، عن نافع عن ابن عمر، عن النبي - عليه السلام - في الملبقة. فأنكره أبو عبدالله، وقال: من روى هذا ؟ قيل: له : الحسين بن واقد. فقال بيده وحرك رأسه كأنه لم يرضه .
Artinya: Ahmad bin Ashram bin Khuzaimah Al Muzni telah menceritakan pada kami, beliau berkata: Aku mendengar imam Ahmad bin Hanbal ketika dikatakan padanya mengenai hadist Ayyub dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Rasulullah Sallahu Alaihi Wa Sallam mengenai Al Mulabbaqah. Maka, imam Ahmad mengingkarinya dan berkata; Siapa orang yang meriwayatkan hadist ini?, dijawab padanya; Al Husein bin Waqid. Lalu beliau menjawab dengan mengisyaratkan tangannya dan menggerakkan kepalanya seolah olah menandakan ketidaksetujuannya.
[Addu'afa: 1/270]
Al Imam Al Uqaili (W 322 H) menuliskan;
حدثني الخضر بن داود، قال: حدثنا أحمد بن محمد، قال: ذكر أبو عبد الله حسين بن واقد فقال : وأحاديث حسين ما أرى أي شيء هي؟ ونفض يده .
Artinya: Al Khadir bin Daud menceritakan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Muhammad menceritakan pada kami, beliau berkata: Abu Abdullah meyebutkan tentang Husein bin Waqid lalu beliau berkata: Hadist hadist Husein aku tidak melihat apa-apa padanya (tidak valid dari Husein) lalu beliau mengibaskan tangannya.
[Addu'afa: 1/270]
Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani (W 852 H) mengatakan:
وقال العقيلي : أنكر أحمد بن حنبل حديثه .
Artinya: Al Uqaili mengatakan: Imam Ahmad bin Hanbal mengingkari hadistnya.
[Tahdzib Attahdzib: 1/438]
Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani (W 852 H) mengatakan:
وقال الساجي : فيه نظر، وهو صدوق يهم.
Artinya: Assaji berkata: Padanya ada keraguan, dan dia adalah seorang yang jujur tetapi sering tersilap.
[Tahdzib Attahdzib: 1/438]
Al Imam Abdullah Al Ghummari (W 1380 H) mengatakan:
والحسين بن واقد ضعيف وشيخه فيه مقال
Artinya: Al Husein bin Waqid adalah lemah dan para gurunya pun masih memiliki banyak pertimbangan.
[Al Mudawi: 1/101]
Dengan demikian, hadist doa buka puasa ذَهَبَ الظَّمَأُ sudah dipastikan do'if. Dikarenakan, dalam sanad periwayatan nya terdapat rawi yang bermasalah yakni Husein bin Waqid. Dan perlu dicatat adalah kami tidak menafikan dan tidak menolak orang orang yang men-tsiqah-kan Husein bin Waqid seperti Imam Abu Daud, Imam Annasa'i, Imam Ibnu Sa'ad dan sebagainya.
Dan kelemahannya tidak berhenti disini. Mari kita lanjutkan menjarah dan menta'dil rawi berikutnya yaitu Marwan bin Salim Al Muqaffa'. Berikut ulasannya.
C2. MARWAN BIN SALIM AL MUQAFFA' ADALAH MAJHUL HAL.
Marwan bin Salim Al Muqaffa' adalah rawi yang Majhul hal. Orang tidak tidak mendapatkan jarah dan tidak juga mendapatkan ta'dil dari Imam Al Bukhari. Berarti, status riwayatnya adalah ihtimal alias ditangguhkan. Dan ia berarti seseorang yang Majhul Hal.
Al Imam Al Bukhari (W 256 H) menuliskan:
١٦٠٥ - مروان المقفع روى عن ابن عمر .
Artinya: 1605 - Marwan Al Muqaffa' meriwayatkan dari Ibnu Umar.
[Tarikh Al Kabir: 7/374]
Disini, sudah jelas bahwa derajat hadist doa buka puasa ذَهَبَ الظَّمَأُ tidak mencapai derajat sahih.
Al Imam Ibnu Abi Hatim Arrazi (W 327 H) juga tidak tahu siapa Marwan bin Salim Al Muqaffa' ini;
[1241] - مروان مولى هند بنت المهلب بن أبي صفرة
روى عن أنس بن مالك روى عنه هشام بن حسان وحماد بن زيد سمعت أبي يقول ذلك وسمعته يقول : مروان المقفع روى عن ابن عمر حديثاً مرفوعاً روى عنه حسين بن واقد ولا أدري هو مروان مولى هند أم غيره.
Artinya: [1241] - Marwan, maula Hind binti Al Muhallab bin Abi Sufrah, meriwayatkan daripada Anas bin Malik. Hisham bin Hassan dan Hammad bin Zaid meriwayatkan daripadanya. Aku mendengar ayahku berkata demikian dan aku mendengarnya berkata: Marwan al-Muqaffa' meriwayatkan dari Ibn Umar sebuah hadis marfu'. Husain bin Waqid meriwayatkan daripadanya. Dan aku tidak tahu, apakah dia adalah Marwan maula Hind atau orang lain.
[Jarah Wa Ta'dil: 8/191]
C3. MELURUSKAN KESALAHPAHAMAN.
Jika ada yang berkata; marwan bin Salim Al Muqaffa' ini telah dinyatakan Maqbul (diterima) oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani.
Jawabannya; Betul, akan tetapi pendapat beliau itu sudah dinyatakan salah oleh ulama wahhabisme yakni seperti yang dikatakan oleh Syaikh Syuaib Al Arnauth Al Wahhabi berikut;
Syaikh Syuaib Al Arnauth mengomentari pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani berikut;
٦٥٦٩ - مروان بن سالم المفقع ، بفاء ثم قاف ثقيلة، مصري : مقبول، من الرابعة . دس.
بل : مجهول الحال فقد تفرد بالرواية عنه اثنان فقط، وذكره ابن حبان وحده في «الثقات»، وليس له في الكتب الستة سوى حديث واحد أخرجه أبو داود (۲۳۵۷)، والنسائي في «الكبرى» (۳۳۲۹) و «عمل اليوم والليلة» (۲۹۹) وقد استغربه الحافظ أبو عبد الله بن منده.
Artinya: 6569 - Marwan bin Salim Al Mufaqqa', dibaca dengan huruf fa' kemudian qaf tsaqilah, bernegara Mesir: Maqbul (diterima) dari tingkatan ke empat. Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Annasa'i.
Justru ia adalah Majhul hal. Karena, hanya dua orang saja yang meriwayatkan daripadanya, dan Ibnu Hibban saja seorang yang menyebutnya dalam "Attsiqat". Dia tidak ada [hadis] dalam kitab yang enam, melainkan satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), dan al-Nasa'i dalam "al-Kubra" (3329) dan "Amal al-Yaum wa al-Lailah" (299). Al-Hafiz Abu Abdullah bin Mandah menganggapnya sebagai hadis yang gharib (asing/ganjil).
[Tahrir Taqrib Attahdzib: 3/362-363]
Dan Syaikh Abdullah bin Murad Assalafi Al Wahhabi juga mengatakan;
وفي الإسناد مروان بن سالم المقفع، ولم يخرجا له ، وهو مقبول (التقريب ۲۳٩/٢)، والعجب من الحاكم التصريح بأن الشيخين قد احتجا بالمذكورين وكذلك سكوت الذهبي على ذلك ، مع أنه ذكر مروان بن سالم المقفع وحديثه في الميزان (۹۱/۳) ، ولم يذكر فيه شيئاً من الجرح والتعديل ، ولكن لم يرو عنه غير الحسين بن واقد، وعزرة بن ثابت ولم يوثقه أحد، فهو مجهول الحال، فلذا أورده في الميزان . ولذا قال الحافظ : مقبول ، أي إذا توبع .
Artinya: Dan dalam sanadnya terdapat Marwan bin Salim al-Muqaffa', dan kedua Syaikh (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkan darinya, dan dia adalah maqbul (diterima) (al-Taqrib 2/239). Dan adalah mengherankan apabila Al Hakim menyatakan babwa kedua Syaikh telah berhujjah dengan orang-orang yang disebutkan, begitu juga dengan sikap Addzahabi yang berdiam diri mengenainya, padahal dia telah menyebut Marwan bin Salim al-Muqaffa' dan hadisnya dalam al-Mizan (3/91), dan tidak menyebutkan apa-apa pun mengenai jarh (cela) dan ta'dil (pujian) padanya. Akan tetapi, tidak ada yang meriwayatkan daripadanya melainkan al-Husain bin Waqid dan 'Azrah bin Thabit, dan tidak ada seorang pun yang menganggapnya Tsiqah. Jadi, dia adalah majhul hal. oleh karena itu dia memasukkannya kedalam al-Mizan.
Oleh itu juga, al-Hafiz berkata: maqbul, iaitu jika ada mutaba'ah (dibantu dengan riwayat yang lain).
[Ta'liqaat Alaa Maa Sahhahahu Al Hakim: 100]
Dan jika ada yang berkata; hadist ذَهَبَ الظمأ ini sudah dinyatakan sanadnya Hasan oleh Imam Addariquthni dalam kitab sunannya. Nih buktinya;
باب القول عند الإفطار
۲۲۷۹- حدثنا القاضي الحسين بن إسماعيل ، حدثنا علي بن مسلم ، حدثنا علي بن الحسن بن شقيق ، حدثنا الحسين بن واقد ، حدثنا مروان المقفع ، قال : رأيت ابن عمر يقبض على لحيته ، ويقطع ما زاد على الكف ، قال : وكان رسول الله ﷺ يقول إذا أفطر : ذَهَبَ الظمأ ، وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله. تفرد به الحسين بن واقد ، إسناده حسن .
[Sunan Addaraquthni: 3/156]
Jawabannya; Pertama, hadist tersebut sudah dijelaskan oleh beliau bahwasanya hadist tersebut diriwayatkan secara tafarrud alias menyendiri oleh Al Husein bin Waqid.
Kedua, Imam Addariquthni ketika menghasankan sanad sebuah riwayat. Maka, maksudnya adalah hadist itu gharib atau mungkar. Bukan bermakna hasan seperti yang sering kita kenal dalam ilmu mustolah hadist.
Ketiga, tahsin yang dilakukan oleh Imam Addariquthni pada riwayat tafarrud atau pada rawi yang tidak kuat dan pada rawi rawi yang bermasalah lainnya adalah bermaksud Gharib atau mungkar.
Berikut adalah bukti buktinya dan pernyataan para ulama.
Syaikh Abi Mu'adz Tariq Awadullah bin Muhammad menyatakan;
وهذه أمثلة عن الإمام الدارقطني :
فمن ذلك :
أخرج في «السنن ) :
ربيعة حديث : الوليد بن مسلم : أخبرني ابن لهيعة : أخبرني جعفر بن ، عن يعقوب بن الأشج ، عن عون بن عبد الله بن عتبة ، عن ابن عباس، عن عمر بن الخطاب ، عن النبي ﷺ - في التشهد - : «التحيات الله ، والصلوات الطيبات المباركات لله» .
ثم قال :
هذا إسناد حسن ، وابن لهيعة ليس بالقوي
وقوله : «إسناد حسن ، بمعنى : غريب أو منكر .
ويدل على ذلك :
أنه أخرجه في كتاب «الغرائب والأفراد.
Artinya: Dan ini adalah contoh-contoh dari Imam Addariquthni: Antaranya: Beliau meriwayatkan dalam As-Sunan; Hadist: Al Walid bin Muslim: Ibn Lahi'ah memberitahuku: Ja'far bin Rabi'ah memberitahuku, dari Ya'qub bin Al Ashajja, dari 'Awn bin Abdullah bin 'Utbah, dari Ibn Abbas dari Umar bin Al Khattab, dari Nabi ﷺ - dalam tasyahhud -: "التحيات الله ، والصلوات الطيبات المباركات لله.
Kemudian beliau berkata: Sanad ini hasan, dan padahal Ibn Lahi'ah tidaklah kuat. Dan perkataannya: "Sanad hasan", bermaksud: gharib atau munkar. Dan yang menunjukkan kepada hal itu adalah: Bahawa beliau meriwayatkannya dalam kitab Al-Ghara'ib wal Afrad.
[Al Irsyadaat: 145]
Syaikh Hasan Fauzi Hasan Assha'idi juga menjelaskan;
١٤ - الإمام الدارقطني
وقد استخدم الدار قطنى مصطلح الحسن ولم يرد به المعنى الاصطلاحی. أخرج الدار قطني في السنن, حديث الوليد بن مسلم، أخبرني ابن لهيعة، أخبرني جعفر بن ربيعة، عن يعقوب بن الأشج، عن عون بن عبد الله بن عتبة، عن ابن عباس، عن عمر بن الخطاب، عن النبي له في التشهد التحيات الله، والصلوات الطيبات المباركات لله، ثم قال: هذا إسناد حسن، وابن لهيعة ليس بالقوي.
ومما يدل على أنه لم يرد المعنى الاصطلاحي
1 - أنه أخرجه في كتاب الغرائب والأفراد، وقال: غريب من حديث عمر عن النبي، فالحديث مما تفرد به ابن لهيعة.
Artinya: 14 - Imam Addaraquthni
Addaraquthni telah menggunakan istilah hasan tapi beliau tidak bermaksud makna istilah (hadis hasan) yang lazim. Addaraquthni meriwayatkan dalam kitab Sunannya, hadis Al-Walid bin Muslim, yang memberitahuku Ibn Lahi'ah, yang memberitahuku Ja'far bin Rabi'ah, dari Ya'qub bin Al-Ashajj, dari 'Awn bin Abdullah bin 'Utbah, dari Ibn Abbas, dari Umar bin Al-Khattab, dari Nabi ﷺ mengenai tasyahhud: "التحيات الله، والصلوات الطيبات المباركات لله." Kemudian beliau berkata: "Sanad ini hasan, tetapi Ibn Lahi'ah tidaklah kuat.
Antara yang menunjukkan bahwa beliau tidak bermaksud makna istilah (hadis hasan) yang lazim adalah: 1 - Beliau meriwayatkannya dalam kitab Al-Ghara'ib wal Afrad, dan berkata: "Gharib (asing) dari hadis Umar dari Nabi ﷺ." Maka hadis ini adalah antara yang diriwayatkan secara bersendirian oleh Ibn Lahi'ah.
[Manhaj Annaqdiy Indal Mutaqaddimin Minal Muhadditsiin: 582]
Dan jika ada yang berkata; hadist ini sahih dan telah disahih oleh Al Imam Hakim dalam kitab Mustadraknya. Ini buktinya;
١٥٣٦ - أخبرنا أبو حامد أحمد بن محمد الخطيب بمرو ثنا إبراهيم بن هلال ثنا علي بن الحسن بن شقيق أنبأ الحسين بن واقد ثنا مروان بن سالم المقنع قال : رأيت ابن عمر رضي الله عنهما يقبض على لحيته فيقطع : إد على الكف وقال : كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم إذا أفطر قال : ذهب الظماً وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله.
هذا حديث صحيح على شرط الشيخين فقد احتجا بالحسين بن واقد ومروان بن المقنع.
Artinya: Hadist ini sahih atas syarat Bukhari Muslim. Sungguh keduanya telah berhujjah dengan Al Husein bin Waqid dan Marwan bin Muqaffa'.
[Mustadrak: 1/583]
Jawabannya; klaim Al Imam Hakim tersebut sudah disanggah oleh Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani yakni bahwasanya Imam Hakim telah keliru dalam hal tersebut.
Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani (W 852 H) mengatakan:
دس - مروان بن سالم المقفع .
روى عن ابن عمر قال : كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا أفطر قال : ذهب الظماء الحديث .
روى عنه : الحسين بن واقد، وعزرة بن ثابت . ذكره ابن حبان في الثقات. قلت: زعم الحاكم في «المستدرك أن البخاري احتج به فوهم، ولعله اشتبه عليه بمروان الأصفر.
Artinya: Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Annasa'i - Marwan bin Salim Al Muqaffa'. Ia meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata; Rasulallah apabila berbuka beliau berucap; ذهب الظماء Al Hadist. Yang meriwayatkan darinya adalah: Al Husein bin Waqid dan 'Azrah bin Tsabit. Ibnu Hibban menyebutnya dalam Attsiqat. Aku (Ibnu Hajar) katakan; Al Hakim dalam Al Mustadrak mengira bahwasannya Al Bukhari berhujjah dengan Marwan bin Salim. Maka, ia telah keliru. Mungkin, tersamar bagi dia jika yang dimaksud ialah Marwan Al Ashfar.
[Tahdzib Attahdzib: 4/50]
Kemudian, Syaikh Wahhabisme juga telah menyanggah pernyataan Imam Al Hakim tersebut seperti yang sudah dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman Muqbil Al Wadi'i Al Wahhabi berikut;
فيه أوهام : الأول : أن البخاري لم يحتج بالحسين بن واقد .
الثاني : أن مروان بن المقنع ترجمته في ( تهذيب التهذيب ) ، وليس من رجالهما ، ولم يذكر راويا عنه إلا الحسين بن واقد ، وعزرة بن ثابت ولم يوثقه معتبر ، وقد نبه الحافظ في « التهذيب » على وهم الحاكم .
الثالث : أن الحديث ضعيف ؛ لأنه يدور على مجهول الحال .
Artinya: Didalamnya terdapat banyak kekeliruan: Pertama, Al Bukhari tidak pernah berhujjah dengan Al Husein bin Waqid.
Kedua, Marwan bin Muqaffa', pada biografinya dalam Tahdzib Attahdzib dan ia bukan rawi Bukhari Muslim. dan tak pernah disebutkan sebuah riwayat darinya kecuali hanya melalui Al Husain bin Waqid dan 'Azrah bin Tsabit saja, juga tak ada baginya tautsiq yang mu'tabar, ditambah adanya kritikan Al-Hafizh (Ibnu Hajar) dalam At-Tahdzib atas kesalahan Imam Al Hakim ini. Ketiga: Hadits ini Dha'if. Karena, ia bermuara pada perawi majhul hal.
[Ta'liq Al Wadi'i Ala Mustadrak: 1/583]
D. TAMBAHAN.
Syaikh Ali Ridha bin Abdullah adalah salah satu ulama Wahhabi yang menolak keras apabila hadist ذَهَبَ الظَّمَأُ ini di nisbatkan kepada nabi dan beliau juga menolak apabila hadist tersebut dikatakan Hasan. Beliau mengatakan begini dalam kitabnya;
حديث: ذهب الظمأ وابتلت العروق ...!!!
اشتهر حديث: كان رسول الله ﷺ إذا أفطر قال : ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله .
فما هي درجته من الصحة؟
فقد سألني بعض الأحبة - هاتفياً - من قطر فقال بأنه حديث حسنه بعض العلماء، ومنهم الألباني - الله - لكنه يشك في إسناده؛ لأن فيه رجلاً لم يوثقه سوى ابن حبان وانفرد عنه اثنان بالرواية ؛ فهو مجهول الحال؟
فأجبت - وبالله التوفيق : نعم هذا الحديث حسنه الألباني - رحم الله في إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل. وذكر أنه قد حسن إسناده - أيضاً - الدارقطني، وأن تحسينه لإسناده، وتصحيح الحاكم له مما يقوي من شأن ذلك المجهول الحال الذي ذكره الأخ السائل، واسم ذلك الراوي مروان بن سالم المقفع.
وأقول: قد أقر الحافظ ابن حجر في تلخيص الحبير» تحسين الدارقطني لسند الحديث فلم يتعقبه بشيء ؛ لكنه - أعني الحافظ الله - قال عن مروان بن سالم هذا : مقبول - كما في التقريب» ويعني أنه كذلك إذا توبع، وإلا فلين الحديث كما صرح هو بذلك في مقدمة «التقريب»
وبعد البحث عن متابع لهذا الراوي تبين لي أنه تفرد بهذا الحديث ولم يتابعه أحد عليه، فبمقتضى الصناعة الحديثية يكون الإسناد ليناً، وليس حسناً !!
فمن المصادر التي بحثت فيها - ولم يذكرها فضيلة المحدث الألباني في التخريج - عن متابع لمجهول الحال هذا: «الترغيب والترهيب» للأصبهاني. والبغوي في شرح السنة، والمزي في تهذيب الكمال. من طريق الحافظ ابن مندة الذي قال: هذا حديث غريب لم نكتبه إلا من حديث الحسن بن واقد.
وهذا مما يؤكد لنا أن الحديث مما تفرد به مروان المقفع، ولم يتابعه عليه أحد؛ فالنفس لم تطمئن لثبوت هذا الحديث عن النبي ، والله أعلم .
Artinya: Hadist: ذهب الظمأ وابتلت العروق.
Tersebar sebuah hadist: Rasulullah ﷺ apabila berbuka puasa, Rasullullah berkata: ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
Maka, apa derajat kesahihannya?
Sungguh, sebagian kekasihku dari Qatar bertanya ke padaku melalui telefon, katanya hadis ini telah dihasankan oleh sebagian ulama, antaranya adalah Al Albani Rahimahullah. Tetapi, dia meragukan sanadnya; kerana terdapat seorang perawi yang tidak ada seorangpun yang mentsiqahkan-nya terkecuali oleh Ibn Hibban saja dan lagi hanya dua orang saja yang meriwayatkan darinya, jadi ia adalah seorang Majhul Hal?
Maka aku menjawab: Ya, hadis ini telah di hasankan oleh Al Albani, dalam Irwa' al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar al-Sabil. Dan beliau menyebut bahwa sanadnya juga telah dihasankan oleh Al-Daraqutni, dan ia menghasankan sanadnya saja, serta pensahihan oleh Al-Hakim menguatkan kedudukan perawi majhul hal yang disebutkan oleh saudara penanya itu, dan nama perawi majhul hal tersebut ialah Marwan bin Salim Al Muqaffa'.
Dan aku berkata: Sesungguhnya Al-Hafiz Ibn Hajar dalam Talkhis Al Habir telah mengakui penghasanan sanad hadis oleh Al-Daraqutni dan tidak mengkritiknya sedikit pun; tetapi beliau – maksudku Al-Hafiz – berkata tentang Marwan bin Salim ini: 'Maqbul' (diterima) – sebagaimana dalam al-Taqrib – dan ini bermaksud dia diterima jika ada perawi lain yang mengikutinya, jika tidak, maka hadis itu adalah 'layyin' (lemah) sebagaimana yang beliau jelaskan dalam mukadimah al-Taqrib.
Dan setelah mencari pendukung (mutaba'ah) bagi perawi ini, ternyata dia bersendirian dalam meriwayatkan hadis ini dan tiada siapa pun yang mengikutinya; maka mengikut kaedah ilmu hadis, sanadnya adalah 'layyin' (lemah), bukan 'hasan' (baik)!!
Antara sumber yang aku teliti – dan yang tidak disebutkan oleh Fadhilah al-Muhaddith Al-Albani dalam takhrijnya – mengenai mencari pengikut bagi perawi majhul hal ini: al-Targhib wa al-Tarhib oleh Al-Asbahani, dan Al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah, dan Al-Mizzi dalam Tahdhib al-Kamal. Melalui jalan Al-Hafiz Ibn Mandah yang berkata: 'Ini adalah hadis gharib (asing) yang tidak kami tulis melainkan dari hadis Al-Hasan bin Waqid.'
Dan ini menguatkan kepada kita bahwa hadis ini adalah hadis yang diriwayatkan secara bersendirian/tafarrud oleh Marwan Al Muqaffa', dan tiada siapa pun orang yang mengikutinya; maka hati tidak tenang dengan penetapan kesahihan hadis ini kepada Nabi ﷺ, dan Allah lebih mengetahui.
[Majmu'ah Arrasa'il Al Haditsiyyah: 1/771-772]
Al Imam Yusuf Al Mizzi (W 742 H) mengatakan:
حدثنا علي بن الحسن بن شقيق، قال : حدثنا الحسين بن واقد قال : حدثنا مروان المُقَفَّع، قال : رأيتُ عبد الله بن عمر، وسمعته قال : كان رسول الله ﷺ إذا أفطر قال : ذَهَبَ الظَّما وابتلت العروق وثَبت الأجر إن شاء الله تعالى».
قال الحافظ أبو عبد الله : هذا حديث غريب لم نكتبه إلا من حديث الحسين بن واقد .
Artinya: Al Hafidz Abu Abdullah (Ibnu Mandah) mengatakan: Hadist ini adalah Gharib, kami tidak mencatatnya terkecuali dari hadist Al Husein bin Waqid saja.
[Tahdzibul Kamal: 27/391]
Selesai
© ID Cyber aswaja.
NB: Dilarang untuk merubah sumber yang telah diterbitkan tanpa adanya izin resmi dari tim ID Cyber aswaja dan penulis tanpa terkecuali.