Tafsir albaqarah 187
๐๐๐ฃ๐ข๐๐ง ๐๐๐๐ฌ๐ข๐ซ ๐๐ฎ๐ซ๐๐ญ ๐๐ฅ-๐๐๐ช๐๐ซ๐๐ก ๐๐ฒ๐๐ญ ๐๐๐
Tema: Fiqih Puasa, Hubungan Suami-Istri, dan Batasan Allah
๐๐๐ง๐๐๐ก๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐๐ง
Alhamdulillฤhi rabbil ‘ฤlamฤซn. Segala puji bagi Allah ๏ทป yang telah memberikan kepada kita petunjuk melalui Al-Qur’an, kitab yang menjadi cahaya kehidupan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ๏ทบ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan kali ini kita akan mengkaji salah satu ayat penting dalam Surat Al-Baqarah, yaitu ayat 187, sebuah ayat yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kaum Muslimin, khususnya berkaitan dengan puasa Ramadhan, hubungan suami-istri, serta batasan-batasan yang Allah tetapkan sebagai bentuk kasih sayang dan pendidikan bagi hamba-Nya.
Allah ๏ทป berfirman:
“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istrimu; mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, maka Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka sedang kamu beri‘tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187)
๐๐๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ฅ๐๐ค๐๐ง๐ ๐๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ง๐ง๐ฒ๐ ๐๐ฒ๐๐ญ
Jamaah sekalian,
Pada awal disyariatkannya puasa, terdapat aturan yang cukup berat. Jika seseorang telah tidur setelah berbuka, maka ia haram makan, minum, dan berhubungan suami-istri hingga maghrib keesokan harinya. Banyak sahabat yang merasa berat dengan ketentuan ini.
Beberapa sahabat, di antaranya Umar bin Khattab radhiyallฤhu ‘anhu, pernah melanggar aturan tersebut karena dorongan fitrah manusia. Mereka kemudian merasa menyesal dan mengadukan hal itu kepada Rasulullah ๏ทบ. Maka Allah ๏ทป, dengan rahmat-Nya, menurunkan ayat ini sebagai keringanan (rukhsah) dan bukti bahwa syariat Islam dibangun di atas kasih sayang, bukan kesulitan.
๐๐๐๐ฌ๐ข๐ซ ๐๐๐ง ๐๐๐ง๐๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐ฒ๐๐ญ
1. Islam Agama Fitrah dan Realistis
ุฃุญู ููู ูููุฉ ุงูุตูุงู ุงูุฑูุซ ุฅูู ูุณุงุฆูู
Allah menghalalkan hubungan suami-istri pada malam hari Ramadhan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mematikan naluri manusia, tetapi mengaturnya. Puasa bukan berarti menolak kebutuhan jasmani, melainkan mendidik agar nafsu berada di bawah kendali iman.
2. Suami dan Istri sebagai Pakaian
ูู ูุจุงุณ ููู ูุฃูุชู ูุจุงุณ ููู
Ungkapan ini sangat indah dan mendalam. Pakaian memiliki beberapa fungsi:
a. Menutup aib – suami dan istri saling menjaga rahasia.
b. Melindungi – saling melindungi dari dosa dan maksiat.
c. Memberi kehangatan dan kenyamanan – hubungan yang dilandasi kasih sayang.
d. Dekat dan melekat – tidak ada jarak batin.
Ini adalah fondasi rumah tangga Islami.
3. Allah Maha Mengetahui Kelemahan Hamba-Nya
ุนูู ุงููู ุฃููู ููุชู ุชุฎุชุงููู ุฃููุณูู
Allah tahu manusia lemah. Namun yang luar biasa, Allah tidak membuka aib, justru menerima tobat dan memaafkan. Ini mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka selama kita kembali kepada-Nya.
4. Waktu Mulai dan Berakhirnya Puasa
ููููุง ูุงุดุฑุจูุง ุญุชู ูุชุจูู ููู ุงูุฎูุท ุงูุฃุจูุถ ู ู ุงูุฎูุท ุงูุฃุณูุฏ ู ู ุงููุฌุฑ
Ayat ini menjadi dalil jelas: Bolehnya makan dan minum hingga terbit fajar shadiq.
Puasa dimulai sejak fajar dan berakhir saat terbenam matahari (maghrib).
Islam memberikan batasan waktu yang jelas, tegas, dan mudah dipahami.
5. Larangan Hubungan Suami-Istri Saat I‘tikaf
ููุง ุชุจุงุดุฑููู ูุฃูุชู ุนุงูููู ูู ุงูู ุณุงุฌุฏ
I‘tikaf adalah ibadah totalitas mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, hubungan biologis dilarang agar hati benar-benar fokus pada ibadah.
6. Batasan Allah dan Konsep Taqwa
ุชูู ุญุฏูุฏ ุงููู ููุง ุชูุฑุจููุง
Hudลซdullฤh adalah batasan yang jika dijaga akan menyelamatkan manusia. Menariknya, Allah tidak hanya berkata “jangan melanggar”, tapi “jangan mendekati”.
Ini adalah pendidikan preventif agar manusia selamat dari dosa.
๐๐ข๐ค๐ฆ๐๐ก ๐๐๐ง ๐๐ฉ๐ฅ๐ข๐ค๐๐ฌ๐ข ๐๐๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐๐ง
1. Puasa adalah sarana pengendalian diri, bukan penyiksaan.
2. Rumah tangga adalah tempat ibadah jika dijalani sesuai syariat.
3. Taat pada batasan Allah adalah jalan menuju ketenangan hidup.
4. Taqwa bukan hanya ritual, tapi kepatuhan dalam hal-hal pribadi.
๐๐๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Surat Al-Baqarah ayat 187 mengajarkan keseimbangan antara ibadah, fitrah, dan ketaatan. Semoga kita mampu menjalankan puasa dengan ilmu, kesadaran, dan ketakwaan yang semakin meningkat.
Semoga Allah ๏ทป menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
ฤmฤซn yฤ rabbal ‘ฤlamฤซn.