Miskin
Miskin
Gus Baha’ itu sering tampak seperti sedang bercanda. Padahal yang sedang beliau lakukan sebenarnya adalah membongkar ilusi kelas menengah religius.
Kalimat pembukanya saja sudah tidak sopan secara politik moral: “Ternyata banyak orang miskin yang perilakunya tidak penting.” Ini bukan penghinaan pada kemiskinan. Ini penghinaan pada mentalitas. Karena dalam logika Gus Baha’, miskin itu nasib. Tapi tidak penting itu pilihan.
Lalu datanglah ibu-ibu itu:
miskin, tapi punya cita-cita spiritual yang unik: “Gus, doakan saya kaya. Istiqamah saya itu nganggur.”
Doa minta kaya, tapi strategi hidupnya: konsisten tidak bekerja. Ini bukan tawakal. Ini outsourcing nasib ke langit.
Dan di situlah Gus Baha’ masuk bukan sebagai kiai tukang amin,
tapi sebagai konsultan realitas. Gus Baha' tidak langsung bilang: “Kerja, Bu. Jangan halu.”
Beliau malah pakai simulasi masa depan. “Kamu siap kalau suami kamu kaya? Nanti rumahnya bagus, mobilnya bagus. Lama-lama yang dievaluasi itu kamu.”
Ini jenius sekaligus kejam. Karena benar: status sosial itu seperti lampu sorot. Makin tinggi kelas hidupmu,
makin kelihatan semua cacat yang dulu tersembunyi.
Waktu miskin: istri belel itu normal.
Rumah sempit, baju lusuh, gaya hidup asal — semua dimaafkan oleh keadaan. Tapi begitu suami kaya:
rumah mewah, mobil bagus, gaji besar —lalu orang mulai bertanya: “Lho… kok istrinya begini?”
Dan ibu-ibu itu langsung sadar. “Sudah Gus, tidak jadi, tidak jadi.
Ya miskin tidak apa-apa.”
Di situ bukan iman yang berbicara.
Itu insting bertahan hidup. Lalu Gus Baha’ menancapkan paku terakhir:
“Pertama yang dievaluasi itu mobil,
lalu rumah diganti, lama-lama kamu.” Ini bukan teori. Ini statistik sosial. Dan ketika Gus Baha’ tanya:
“Suami kamu punya potongan seperti itu?” Si ibu menjawab jujur:
“Iya Gus, kayaknya iya.”
Artinya: kalau nanti suami kaya,
yang pertama dicoret dari upgrade hidup adalah… dia sendiri. Dan di titik itu Gus Baha’ mengeluarkan fatwa paling realistis abad ini: “Sudahlah, biarkan miskin saja sampai mati ya.”
Ini bukan doa buruk. Ini doa keselamatan rumah tangga. Lebih baik miskin tapi utuh, daripada kaya tapi ganti istri.
Dan penutup kisah ini itu luar biasa sunyi: “Ya alhamdulillah, sampai sekarang dia miskin dan bersyukur karena berkat ilmu itu.”
Perhatikan: yang disyukuri bukan kemiskinannya. Yang disyukuri adalah kesadaran. Bahwa tidak semua orang cocok kaya. Bahwa rezeki besar itu bukan hadiah netral.
Ia datang membawa ujian tambahan:
soal selera, standar, gengsi, dan kesetiaan.
Gus Baha’ sedang mengajarkan satu hal pahit: Tidak semua doa minta kaya itu bijak. Karena kadang yang tidak siap itu bukan dompetmu —
tapi mentalmu. Dan mungkin itulah makna terdalam dari cerita ini: Ada orang yang miskin bukan karena takdir, tapi karena diselamatkan dari kehancuran versi kayanya sendiri.
Dan di situlah Gus Baha’ benar-benar kejam… dengan cara yang penuh rahmat.