Hindu dan Islam; Menyakiti Makhluk Hidup
Hindu:
“Makan daging itu tidak boleh.”
Saya:
“Kenapa, Pak?”
Hindu:
“Karena itu menyakiti makhluk hidup.”
Saya:
“Oh, jadi alasannya karena menyakiti, ya?”
Hindu:
“Iya.”
Saya:
“Kalau begitu, membunuh nyamuk boleh atau tidak?”
Hindu:
“Boleh. Nyamuk itu menyerang kita. Sama seperti tentara boleh membunuh musuh yang mengancam nyawa.”
Saya:
“Baik, saya paham. Bapak vegetarian, berarti hanya makan sayur, ya?”
Hindu:
“Iya. Kami tidak menyakiti makhluk hidup.”
Saya:
“Tapi bukankah dalam pertanian sayur tetap ada serangga yang mati?”
Hindu:
“Tidak. Dalam ajaran Hare Krishna kami dilarang memakai pestisida. Kami pakai kencing sapi yang dipercikan ketanaman untuk mengusir serangga, bukan membunuh.”
Saya:
“Oh begitu. Tapi dalam ajaran Hindu sendiri, tanaman juga punya nyawa, kan?”
Hindu:
“Iya, tanaman juga makhluk hidup.”
Saya:
“Dan tanaman merasakan sakit ketika dipetik?”
Hindu:
“Benar.”
Saya:
“Berarti ketika bapak memetik sayuran, tanaman itu tetap merasakan sakit?”
Hindu:
“Iya, tapi adek perlu tau, kami tidak boleh membunuh sayuran, Akarnya tidak dicabut jadi kami hanya memotong pangkal pohon atau mengambil sebagian daunnya saja.”
Saya:
“Baik. Kalau begitu, saya mau tanya secara logika saja, Pak.”
Hindu:
“Silakan.”
Saya:
“Kalau masalahnya adalah ‘tidak membunuh’, berarti saya boleh makan daging sapi dengan syarat saya tidak membunuh sapinya. Misalnya hanya memotong kakinya saja, sapinya tetap hidup.”
Hindu:
“Tidak boleh. Itu kejam. Sapi akan menderita dan tidak bisa hidup normal, sedang tumbuhan memungkinkan untuk tumbuh kembali.”
Saya:
“Tapi tanaman juga menderita ketika dipetik, dan bapak sendiri tadi bilang tanaman itu merasa sakit.”
(Hindu terdiam sebentar)
Saya:
“Baik, saya ubah pertanyaannya. Kalau ada sapi mati secara alami, bukan dibunuh manusia, lalu jadi bangkai, boleh tidak saya makan?”
Hindu:
“Tidak boleh.”
Saya:
“Kenapa, Pak? Saya tidak membunuhnya, tidak menyakitinya, daripada dagingnya terbuang sia-sia.”
(Hindu kembali diam)
ini diskusi saya dengan Bapak Made Sukrariasa pagi ini.
Islam mengakui satu fakta mendasar:
Tidak mungkin manusia hidup tanpa adanya makhluk lain yang mati atau terluka.
manusia menanam padi, padi dimakan belalang, belalang dimakan katak, katak dimakan ular, dan ular dimakan elang.
inilah fitrahnya kehidupan.
Karena itu, Islam tidak membangun etika di atas klaim mustahil seperti “Ahimsa," tidak menyakiti makhluk hidup sama sekali”, tetapi di atas keadilan, kebutuhan, dan rahmat.
Islam membolehkan membunuh hewan, namun bukan secara mutlak, melainkan dengan syarat-syarat ketat.
a. Ada kebutuhan yang sah
Hewan boleh dibunuh jika:
Untuk makanan halal
Untuk menghilangkan bahaya (hewan buas, hama berbahaya)
Untuk ibadah yang disyariatkan (qurban, aqiqah)
Tidak boleh:
Sekadar hiburan
Pamer kekerasan
Menyakiti tanpa manfaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قَتَلَ عُصْفُورًا عَبَثًا، عَجَّ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Siapa membunuh burung kecil tanpa tujuan yang benar, ia akan mengadu kepada Allah pada hari kiamat.”
(HR. an-Nasa’i)
dari diskusi ini membuktikan bahwa manusia memang bermacam-macam dengan segala pemikirannya. 🙂
——————
Ikuti Ngopidiyyah