Para salaf mengimani lafalnya, bukan makna ayat mutasyabihat
🔰 SALAF MENGIMANI LAFADZ DZOHIR BUKAN MAKNA DZOHIR.
Oleh: M. Rofiannnur Al Hamaamuh, SN, DH.
A. PEMBUKAAN DAN PENGURAIAN.
Menurut bapak Toyyib Maulidi pada menit yang ke 01:26:58 mengklaim bahwasanya kewajiban mengimaninya dzohir nushsus (dzohir nash nash sifat) adalah mengimani maknanya juga namun bukan Kaifiyyah-nya.
Saya akan fokusnya pembahasan ini pada ucapan beliau yang mengatakan: "mengimaninya maknanya".
Jadi, apakah betul para salaf itu dalam dzohir nash sifat mengimani maknanya juga?. Berikut adalah jawaban.
B. BANTAHAN.
Pertama, klaim para salaf mengimani dzohir nash sifat dengan mengimani maknanya juga adalah klaim yang salah total. Hal ini terjadi, akibat salah kaprah dalam memahami ucapan para imam salaf. Seperti ucapan berikut;
Al Imam Abil Qasim Ismail Attaimi (W 535 H) meriwayatkan:
وقال أبو يعلى : أنكر أحمد رحمة الله عليه التشبيه. وقال أئمة أصحاب الحديث في أخبار الصفات : أمروها كما جاءت.
Artinya: Al Imam Abu Ya'la berkata: Imam Ahmad Rahmatullah Alaihi mengingkari tasybih. Dan para imam Ashabul Hadist mengatakan mengenai nash nash sifat: jalankan saja oleh kalian sebagaimana datangnya.
[Al Hujjah Fii Bayan Al Muhajjah: 1/436]
Al Imam Abi Sulaiman Al Khattabi (W 388 H) mengatakan:
قُلتُ : هَذَا الحَدِيث وما أشبهه من الأحاديث في الصفات كان مذهب السلف فيها الإيمان بها وإجراؤها على ظاهرها ونفي الكيفية عنها
Artinya: Aku katakan: Hadist ini (Hadist Nuzul) dan hadist yang serupa dengan-nya merupakan hadist-hadist sifat. Para madzhab salaf mengenainya adalah mengimaninya, menjalankan dzohirnya dan menafikan Kaifiyyah darinya.
[A'lam Al Hadist: 1/638]
Dan masih banyak lagi ucapan para salaf yang serupa mengenainya. Namun, intinya adalah para salaf ketika berhadapan dengan ayat sifat atau nash sifat. Mereka mengimaninya (tidak menolaknya), mereka menjalankan sebagaimana datangnya dan menafikan Kaifiyyah darinya.
Dan berdasarkan hal tersebut, apakah betul para ulama salaf saat mereka mengimaninya dzohir nash sifat mereka juga mengimaninya maknanya?.
Jawabannya adalah tidak. Justru maksud ucapan para salaf diatas tadi adalah mereka hanya mengimani lafadz dzohirnya saja dan mereka berdiam diri dari maknanya. Dengan kata lain, salaf mengimani lafadz dzohir nash bukan makna dzohir dari nash.
Al Imam Abi Sulaiman Al Khattabi (W 388 H) mengatakan:
فأجروه على ظاهر لفظه، ولم يكشفوا عن باطن معناه
Artinya: Mereka (para salaf) menjalankan dzohir lafadznya dan mereka tidak menyingkap hal yang tersembunyi dari makna-makna nya.
[A'lam Al Hadist Fii Syarhi Sahih Al Bukhari: 1010, Asma' Wa Assifat Lil Baihaqi: 2/182]
Al Imam Ibnu Qudamah Al Hanbali Al Maqdisi (W 620 H) menyatakan:
وأما إيماننا بالآيات، وأخبار الصفات فإنما هو إيمان بمجرد الألفاظ التي لا شك في صحتها ولا ريب في صدقها، قائلها أعلم بمعناها، فآمنا بها على المعنى الذي أراد ربنا تبارك وتعالى فجمعنا بين الإيمان الواجب، ونفي التشبيه المحرم.
Artinya: Adapun keimanan kami dengan ayat ayat (sifat) dan hadist hadist sifat adalah mengimani lafadz lafadz yang tidak diragukan lagi akan kesahihannya dan tidak pula dicurigai kebenarannya, yang mengatakannya lah yang lebih tahu maknanya. Jadi, kami mengimaninya atas makna yang tuhan kita Tabaraka Wa Ta'alaa (Allah) kehendaki.
[Arraddu Alaa Ibni 'Aqiil Al Hanbali: 41]
Al Imam Ibnu Qudamah Al Hanbali Al Maqdisi (W 620 H) menegaskan lagi didalam kitab yang berbeda:
ولأنَّ قَوْلَهم : ( ءامَنَّا بِهِ ﴾ [آل عمران:۷] يدلُّ على نوع تفويض وتسليم لشيء لم يَقِفُوا على مَعْنَاه، سيَّمَا إِذا أتبعوه بقولهم: كل من عند ربنا [آل عمران:۷].
Artinya: Dan sesungguhnya ucapan mereka (Ulama salaf): Aamannaa Bihi; Kami mengimaninya [Ali Imran ayat: 7] menunjukkan atas semacam tafwidh dan Taslim kepada sesuatu yang mereka tidak faham pada maknanya. Apalagi orang orang yang banyak mengikuti ucapan mereka (pegangan salaf): Segala yang datang dari tuhan kami. [Ali Imran ayat: 7]
[Raudhatun Naadhir Wa Junnatul Munaadhir: 1/162]
Al Imam Ibnu Qudamah Al Hanbali Al Maqdisi (W 620 H) berkata dalam kitabnya yang lain:
فكل ما جاء في القرآن أو صح عن المصطفى من صفات الرحمن وجب الإيمان به، وتلقيه بالتسليم والقبول، وترك التعرض له بالرد والتأويل والتشبيه والتمثيل وما أشكل من ذلك وجب اثباته لفظا، وترك التعرض لمعناه، ونرد علمه إلى قائله،
Artinya: Segala sesuatu yang datang dalam Al Qur'an atau yang sahih dari Al Musthofa (Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam) berkenaan dari sifat Arrahman (Allah). Maka, wajib mengimani nya, percaya dengan membenarkan dan menerima, tidak mempertentangkan nya dengan penolakan, ta'wilan, penyerupaan dan perumpamaan. Dan sesuatu yang yang janggal dari hal tersebut, wajib menetapkan lafadznya dan tidak membincangkan maknanya dan kami mengembalikan pengetahuannya kepada yang mengatakan nya (Allah dan rasulnya).
[Lum'atul Itiqad Al Hadi Ilaa Sabiilir Rasyad: 4]
Al Imam Ala'uddin Al Khazin (W 725 H) mengatakan:
قال الشيخ محيي الدين النووي رحمه الله وغيره اعلم أن هذا الحديث من أكبر أحاديث الصفات وأعظمها وللعلماء فيه وفي أمثاله قولان : أحدهما : وهو قول معظم السلف أو كلهم أنه لا يتكلم في معناها بل يقولون يجب علينا أن نؤمن بها ونعتقد أن لها معنى يليق بجلال الله تعالى وعظمته مع اعتقادنا الجازم أن الله تعالى ليس كمثله شيء وأنه منزه عن التجسيم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوقين وهذا القول هو مذهب جماعة من المتكلمين و اختاره جماعة من محققيهم وهو أسلم.
Artinya: Assyaikh Muhyiyuddin Annawawi Rahimahullah dan selainnya mengatakan; ketahuilah bahwa ini (Hadist Allah menyingkap betisnya) merupakan hadist dari beberapa paling agungnya hadist-hadist sifat. Bagi para ulama didalamnya dan hadist yang serupa dengan-nya terdapat dua pendapat; salah satunya yaitu pendapat para salaf dan yang mewakili mereka yakni bahwasanya tidak membicarakan tentang maknanya. Melainkan, mereka berkata: wajib atas kita mengimaninya dan meyakini bahwasanya ia memiliki makna yang layak pada kemuliaan dan keagungan Allah taala serta kami meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah taala tidak ada sesuatu yang serupa dengan-nya dan bahwasanya Allah taala suci dari Tajsim, berpindah, terliputi oleh arah dan suci dari sekalian sifat-sifatnya makhluk. Ini adalah pendapat mayoritas dari kalangan mutakallimin dan mayoritas kalangan muhaqqiq dan ia pendapat yang paling selamat.
[Tafsir Al Khazin: 4/329]
Jadi sudah jelas ya?!, bahwasanya isbat dzohir nash disisi salaf adalah menetapkan dan mengimani lafadznya sebagaimana lafadz itu datang dari Al Qur'an atau hadist yang sahih. Bukan mengimani makna dzohir dari nash sifat tersebut. Sehingga, apa yang di dakwakan oleh bapak Toyyib Maulidi tersebut adalah salah total.
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah kenapa salaf menetapkan serta mengimani lafadz dzohir saja kenapa tidak sekalian mengimani makna dzohirnya?!
Jawabannya adalah karena ulama salaf dan Khalaf telah bersepakat bahwasanya makna dzohir dari nash sifat tersebut bukanlah makna yang dimaksud. Dan salaf meyakini nash sifat tersebut pasti memiliki makna yang layak pada kemuliaan dan keagungan Allah taala. Hal ini didasari dengan kesucian Allah taala dari makhluk-makhluknya. Makna dzohir dari ayat sifat adalah mustahil terhadap Allah taala. Sebab, dalam makna dzohirnya terkandung tajsim dan sifat makhluk. Maha suci Allah dari hal tersebut.
Al Imam Annawawi Assyafi'i (W 676 H) mengatakan:
هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيه مذهبان مشهوران للعلماء سبق ايضاحهما في كتاب الايمان ومختصرهما أن أحدهما وهو مذهب جمهور السلف وبعض المتكلمين أنه يؤمن بأنها حق على ما يليق بالله تعالى وأن ظاهرها المتعارف في حقنا غير مراد ولا يتكلم في تأويلها مع اعتقاد تنزيه الله تعالى عن صفات المخلوق وعن الانتقال والحركات وسائر سمات الخلق والثاني مذهب أكثر المتكلمين وجماعات من السلف وهو محكي هنا عن مالك والأوزاعي أنها تتأول على ما يليق بها.
Artinya: Hadist ini (hadist Nuzul) merupakan sebagian dari hadist-hadist sifat dan mengenai hadist ini terdapat dua madzhab yang sudah masyhur bagi ulama dan telah lalu penjelasan tentang keduanya dalam kitab Iman. Tapi, ringkasan tentang keduanya adalah bahwasanya salah satu dari keduanya merupakan madzhab mayoritas salaf dan sebagian para ahli teolog, yakni mengimani bahwasanya hadist itu adalah Haq pada apa apa yang layak terhadap Allah taala dan sesungguhnya dzohirnya itu yang sering kita kenal bukanlah yang maksud dan mereka tidak berkata apa-apa mengenai ta'wilannya disertai I'tiqat menyucikan Allah taala dari sifat sifat makhluk seperti berpindah, bergerak dan beberapa yang disematkan kepada makhluk. Dan kelompok yang kedua adalah madzhab kebanyakan para ahli Kalam dan jamaah kalangan salaf dan ia sudah dikisahkan disana (kitab iman) seperti dari Malik dan Auza'i sesungguhnya ia dita'wil dengan apa apa yang layak padanya.
[Syarah Sahih Muslim Bisyarhi Annawawi: 6/36]
Al Imam Annawawi (W 676 H) mengatakan lagi:
(فرع) اختلفوا فى ايآت الصفات واخبارها هل يخاض فيها بالتأويل أم لا.؟ فقال قائلون تتأول على مايلق بها، وهذا أشهر المذهبين للمتكلمين، وقال أخرون : لا تتأول بل يمشك عن الكلام في معناها، وبو كل علمها إلى الله تعالى، ويعتقد مع ذلك لتنزيه الله تعالى، وانتفاء صفات الحدث عنه، فيقال مثلا : نؤمن بأنا "الرحمن على العرش استوى"، ولا نعلم حقيقة معنى ذللك والمراد به، مع أنا نعتقد أن الله تعالى : "ليس كمثله شيء"، وأنه منزه عن الحلول والسمات الحدوث، وهذه طريق السلف أو جماهرهم، وهي أسلم.
Artinya: (cabang persoalan) terjadi perbedaan pendapat dari para ulama dalam pembahasan ayat-ayat sifat dan khabar-khabar tentangnya apakah mereka menyikapinya dengan takwil atau tidak.? maka sebagian mereka berkata bahwa itu di takwil sesuai dengan apa yang layak bagi-Nya, dan inilah yang paling masyhur dari pendapat yang kedua ulama ahli kalam, dan yang lain berkata bahwa itu tidak perlu di takwil, akan tetapi menahan diri dari membicarakan makna maknanya dan menyerahkan segala pengetahuan tentangnya kepada allah taala, bersamaan dengan itu menyakini kesucian Allah taala serta menafikan sifat-sifat yang baru dari-Nya, contoh diantaranya adalah ucapan : Kami beriman bahwa "Yang Maha Pemurah ber-istiwa' di atas 'Arsy", dan kami tidak mengetahui hakikat makna tentangnya dan apa yang di maksud darinya, bersamaan dengan itu kami meyakini bahwa Allah taala "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya" dan sesungguhnya Dia Maha Suci dari menempati ruang dan juga tanda-tanda kebaharuan, demikianlah manhaj para salaf atau kebanyakan dari mereka dan inilah cara yang paling selamat..
[Al-Majmu' Syarhul Mahadzab: 1/439]
Al Imam Allaqani Al Maliki (W 1041 H) mengatakan:
مبحث في مذهب السلف والخلف في المتشابه
ص: (وكل نص أوهم التشبيه، أوله أو فوض ورم تنزيها).
(ش) تقدم أنه سبحانه وجبت عقلاً وسمعاً مخالفته للحوادث، فمتى ورد في الكتاب أو السنة ظاهر يوهم خلاف ما وجب له تعالى أو جاز في حقه بأن يدل على المعنى المستحيل عليه تعالى.. وجب علينا شرعاً تنزيهه تعالى عما دل عليه ذلك الظاهر اتفاقاً من أهل الحق وغيرهم خلا المجسمة والمشبهة متمسكين في إثبات الجسمية له تعالى بتلك الظواهر الواجبة التأويل لقبولها إياه.
Artinya: Pembahasan tentang madzhab salaf dan Khalaf mengenai ayat ayat/nash mutasybihat.
Mushannif berkata: Setiap nash yang membawa waham tasybih. Maka, takwil-lah atau tafwidh lah dan memilih tanzih.
Penjelasan: Telah berlalu penjelasan bahwasanya Allah Subhanahu wajib secara dalil akal dan dalil naql yakni menyelisihi/berbeda mutlak dengan hal hal yang baharu. Ketika menjumpai dalam Al Qur'an dan Sunnah dzohir nash yang membawa pada menyelisihi apa apa yang wajib kepada Allah atau yang jaiz pada haqnya. Contohnya, dzohir nash mengindikasikan makna yang mustahil padanya. Maka, wajib atas kita secara syariat menyucikan Allah taala dari makna makna yang dzohirnya mengindikasikan hal tersebut (Tajsim/tasybih). Karena kesepakatan ahli Haq dan selainnya terkecuali kelompok Mujassimah dan musyabbihah yang mana mereka menyandarkan sifat jismiyah kepada Allah berdasarkan dzohir nash itu yang padahal wajib mentakwil nya untuk menerima nash tersebut.
[Hidayatul Muriid Li Jauharatit Tauhid: 139]
Al Imam Allaqani Al Maliki (W 1041 H) mengatakan:
وذهب إلى الثاني السلف. ويعبر عنهم بالمفوضة، وإليه أشار بقوله: (أو فوض ورم) أي: اقصد تنزيهاً له تعالى عما لا يليق به فينزهونه سبحانه عما يوهمه ذلك الظاهر من المعنى المحال، ويفوضون علم حقيقته على التفصيل إليه تعالى.
Artinya: Salaf berpendapat dengan yang kedua dan mereka dikategorikan sebagai Mufawwidah. Mushannif memberikan isyarat dengan ucapannya: أو فوض ورم. Maksudnya, bersungguh-sungguh lah untuk menyucikan Allah taala dari apa apa yang tak layak padanya. Jadi, salaf menyucikan Allah Subhanahu dari apa apa yang dzohirnya itu yakni dari makna yang mustahil. Mereka mentafwidh pengetahuan hakikatnya (hakikat maknanya) kepada Allah.
[Hidayatul Muriid Li Jauharatit Tauhid: 139]
Imam Allaqqaanii Al Maliki (W 1041 H) berkata:
فظهر بما قررناه اتفاق الفريقين على تنزيهه تعالى عن المعنى المحال الذي دل عليه ذلك الظاهر، وعلى تأويله وإخراجه عن ظاهره المحال، وعلى الإيمان بأنه من عند الله جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم،
Artinya: Maka sudah jelas dengan apa yang telah kami nyatakan tentang kesepakatan dua kelompok (salaf dan khalaf) atas sucinya Allah taala dari makna yang mustahil yakni yang menunjukkan pada dzohirnya, menta'wil nya dan mengeluarkan dari makna dzohir kemustahilan nya. Dan mengimaninya dengan apa yang datang dari Allah dan Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam.
[Hidayatul Muriid Li Jauharatit Tauhid: 140]
Jadi, sudah jelas lagi ya?!. Bahwasanya alasan para salaf tidak mengimani makna dzohirnya dan hanya mengimani lafadz dzohir adalah karena makna dzohir nash sifat tersebut adalah makna yang tak layak pada Allah taala dan makna tersebut mustahil disematkan kepada Allah taala. Disamping itu makna dzohir mengandung tajsim sehingga hal tersebut mustahil disematkan kepada Allah taala.
C. KESIMPULAN.
1. Dakwaan bapak Toyyib Maulidi tersebut salah total. Sebab, salaf yang sebenarnya adalah mengimani lafadz dzohir bukan makna dzohirnya.
2. Maksud ucapan para imam salaf: menjalankan sebagaimana datangnya. Ialah menjalankan lafadznya bukan makna dzohirnya. Dan menyucikannya dari segala penyerupaan, kesamaan, perumpamaan, kebagaimanaan dan sebagainya.
3. Alasan salaf tidak mengimani makna dzohirnya adalah makna dzohir tersebut adalah makna yang mustahil terhadap sifat dan dzatnya Allah taala, makna tersebut mengandung tajsim dan makna yang sebenarnya hanya Allah yang mengetahuinya.
Selesai
© ID Cyber aswaja.
NB: Dilarang untuk merubah sumber yang telah diterbitkan tanpa adanya izin resmi dari tim ID Cyber aswaja dan penulis tanpa terkecuali.
.
.
.
.
.
#aswaja #sunni #wahhabi #salafi #sesat #manhajsalaf #ahlisunnah #kajiansunnah #dakwahislam #ngertiagama #mujassimah #wahhabiyyah #literasi #fyp