Laki-laki lebih bagus shalat di masjid atau rumah
Lebih utama mana bagi laki-laki sholat jamaah dimasjid atau dirumah bersama istri?
Hukum Shalat Berjamaah bagi laki-laki di Masjid atau Bersama Keluarga
Ringkasan hukum
1. Hukum asalnya:
Untuk laki-laki, shalat fardhu 5 waktu berjamaah di masjid lebih utama daripada berjamaah di rumah. Ini karena keutamaan masjid dan berjalan menuju jamaah.
Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Busyrol Karim:
وَالْجَمَاعَةُ لِلرَّجُلِ وَلَوْ صَبِيًّا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ مِنْهَا خَارِجَهُ، لِلْخَبَرِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ: «إِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ»، وَلِفَضْلِ الْمَشْيِ إِلَيْهَا.
“Shalat berjamaah bagi laki-laki, walaupun bersama seorang anak kecil, di masjid lebih utama daripada berjamaah di luar masjid, Berdasarkan hadis yang disepakati (oleh Bukhari dan Muslim): ‘Sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah di rumahnya, kecuali shalat fardhu.’ Dan juga karena adanya keutamaan berjalan menuju tempat pelaksanaan shalat tersebut (masjid).”
Demikian pula dalam Syarah Yaqut an-Nafis:
وَصَلَاةُ الْفَرْضِ وَمَا يُنْدَبُ جَمَاعَةً أَدَاؤُهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ مِنْ أَدَائِهَا فِي الْمَنْزِلِ
“Shalat fardhu dan shalat-shalat yang dianjurkan untuk dilakukan berjamaah, pelaksanaannya di masjid lebih utama daripada melaksanakannya di rumah.”
2. Tetapi ada pengecualian penting:
Jika seseorang pergi ke masjid menyebabkan keluarganya tidak bisa mendapatkan shalat berjamaah, misalnya istri atau anggota keluarganya tidak mampu berjamaah kecuali bersamanya, maka:
Shalat berjamaah bersama keluarga di rumah lebih utama daripada pergi ke masjid.
Dalam Busyrol Karim disebutkan:
نَعَمْ إِنْ كَانَ يُصَلِّيهَا فِي أَهْلِهِ جَمَاعَةً وَذَهَابُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ يَفُوتُهَا وَقَامَ الشِّعَارُ بِغَيْرِهِ، وَلَمْ يَتَعَطَّلْ مَسْجِدٌ بِغَيْبَتِهِ فَهُوَ أَفْضَلُ
“Namun, apabila ia melaksanakan shalat tersebut berjamaah bersama keluarganya, dan kepergiannya ke masjid menyebabkan keluarganya tidak mendapatkan jamaah, Dan syiar (pelaksanaan salat berjamaah di masjid) tetap terlaksana dengan adanya orang lain, serta tidak menyebabkan suatu masjid menjadi tidak terpakai karena ketidakhadirannya, maka shalat bersama keluarganya lebih utama.”
Hal ini juga ditegaskan dalam Syarah Yaqut an-Nafis:
إِذَا كَانَ أَهْلُ الْبَيْتِ لَا يُصَلُّونَ جَمَاعَةً إِلَّا بِوُجُودِكَ، وَيُصَلُّونَ خَلْفَكَ، فَالْأَفْضَلُ أَنْ تُصَلِّيَ بِأَهْلِكَ جَمَاعَةً فِي الْمَنْزِلِ مَا دَامَ خُرُوجُكَ يُعَطِّلُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةَ
“apabila anggota keluarga tidak melaksanakan shalat berjamaah kecuali dengan kehadiranmu dan mereka shalat di belakangmu. Maka yang lebih utama adalah engkau shalat berjamaah bersama keluargamu di rumah, selama keluarmu menyebabkan mereka kehilangan jamaah.”
Bahkan, Dalam Hasyiyah al-Bajuri disebutkan :
وَتَحْصُلُ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ بِصَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ بِزَوْجَتِهِ أَوْ نَحْوِهَا بَلْ تَحْصِيلُهُ الْجَمَاعَةَ لِأَهْلِ بَيْتِهِ أَفْضَلُ
“Keutamaan berjamaah dapat diperoleh dengan shalat dirumahnya bersama istrinya atau yang semisalnya. Bahkan, mengadakan sholat jamaah untuk keluarganya lebih utama.”
Al-Isnawi dan al-Adzra‘i juga membahas secara khusus:
أَنَّ صَلَاتَهُ فِي الْمَسْجِدِ لَوْ كَانَتْ تُفَوِّتُ الْجَمَاعَةَ لِأَهْلِ بَيْتِهِ كَزَوْجَتِهِ كَانَتْ صَلَاتُهُ فِي بَيْتِهِ أَفْضَلَ مِنْ صَلَاتِهِ بِالْمَسْجِدِ
“Jika shalatnya di masjid menyebabkan jamaah bagi keluarganya, seperti istrinya, menjadi terlewat, maka shalatnya di rumah lebih utama daripada shalatnya di masjid.”
3. Bahkan jumlah jamaah tidak menjadi penentu utama.
Walaupun jamaah di masjid lebih banyak, sedangkan jamaah di rumah hanya bersama istri atau satu orang, tetap dinyatakan bahwa berjamaah di rumah bisa lebih utama apabila kepergiannya menyebabkan jamaah keluarga hilang.
Alasannya:
لِأَنَّ حُصُولَهَا لَهُمْ بِسَبَبِهِ رُبَّمَا عَادَلَ فَضِيلَتَهَا فِي الْمَسْجِدِ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
“Karena diperolehnya jamaah oleh mereka disebabkan olehnya, terkadang keutamaannya menyamai keutamaan jamaah di masjid atau bahkan melebihinya.”
4. Yang dimaksud bukan sekadar keluarga memilih tidak ke masjid.
Konteks yang kuat dalam ibaroh para fuqoha’ adalah: kalau dia pergi ke masjid, jamaah keluarganya benar-benar hilang—mereka akhirnya shalat sendiri-sendiri, atau sebagian meninggalkan/meremehkan shalat berjamaah.
Ini sangat jelas dalam Mughni al-Muhtaj:
نَعَمْ لَوْ كَانَ إِذَا ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ وَتَرَكَ أَهْلَ بَيْتِهِ لَصَلَّوْا فُرَادَى أَوْ لَتَهَاوَنُوا أَوْ بَعْضُهُمْ فِي الصَّلَاةِ ….. فَصَلَاتُهُ فِي بَيْتِهِ أَفْضَلُ
“Jika ketika ia pergi ke masjid dan meninggalkan keluarganya, mereka keluarganya akan shalat sendiri-sendiri, atau mereka menjadi malas dalam shalat, maka shalatnya di rumah lebih utama.”
Kesimpulan :
Jadi, hukum asalnya adalah:
Jamaah laki-laki di masjid lebih utama daripada jamaah di rumah.
Namun, apabila kepergiannya ke masjid menyebabkan keluarganya kehilangan jamaah, sedangkan dengan dia tetap di rumah mereka dapat melaksanakan shalat berjamaah, maka shalat berjamaah bersama keluarga di rumah lebih utama.
Bahkan, meskipun jamaah di masjid lebih banyak dan jamaah di rumah lebih sedikit, tetap berjamaah bersama keluarga lebih utama dalam kondisi tersebut.
Jadi, pertimbangannya bukan hanya banyak atau sedikitnya jumlah jamaah, tetapi juga apakah kehadiran seseorang menjadi sebab keluarganya dapat memperoleh keutamaan shalat berjamaah.
Catatan penting: Jangan sampai pembahasan ini disalahpahami seolah-olah laki-laki boleh memilih untuk selalu shalat berjamaah di rumah bersama keluarga, sehingga akhirnya masjid kosong dan tidak ada jamaah.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, ketentuan tersebut berlaku apabila syiar berjamaah di masjid tetap berjalan, yaitu masih ada jamaah yang melaksanakan shalat di masjid meskipun ia tidak hadir.
Adapun jika semua orang memilih shalat di rumah dengan alasan ingin berjamaah bersama keluarga, sehingga menyebabkan masjid tidak lagi memiliki jamaah dan syiar berjamaah di masjid menjadi terhenti, maka tentu hal tersebut bukan yang dimaksud dalam pembahasan ini.
Referensi
1. Busyrol Karim
2. Syarah Yaqut an-Nafis
3. Hasyiyah al-Bajuri
4. Al-Bujairimi ‘alal Khatib
5. Mughni al-Muhtaj
6. Hasyiyah al-Jamal