Kasta Hindu itu Ditentukan dari Kelahiran atau Kemampuan?
Kasta Hindu itu ditentukan oleh kelahiran atau kemampuan?
Ngopidiyyah selama ini berpandangan bahwa kasta ditentukan oleh kelahiran.
Kalau lahir sebagai anak Brahmana, ya Brahmana.
Kalau lahir dari keluarga Sudra, ya Sudra.
Tidak mungkin seseorang Sudra akan menjadi Brahmana meskipun Pandai Kitab Weda. Buktinya Shambuka dibunuh Rama karena belajar Weda.
Juga Tidak mungkin seseorang Sudra bisa menjadi Kesatria hanya karena pintar Manah buktinya Ekalawya harus dihukum potong Jari oleh Maharsi Drona karena Kasta rendah belajar pnah.
Sepintar, sepandai, secakap apapun kasta dia, kalau dari Sudra ya sudra. Dia tidak akan naik tingkat menjadi Brahmana.
Tapi akun Hindu bernama Mbah Anom dan Dewa Gede Radiantha justru membantah:
“Tidak begitu. Siapa pun bisa menjadi Brahmana kalau memang punya kemampuan. Buktinya Resi Valmiki. Dulu dia perampok, dan turunan Perampok sekarang menjadi Brahmana dan bahkan menulis Ramayana.”
Tapi benarkah Resi Valmiki Turunan Rampok ?
Tetapi ketika kita membuka teks-teks Hindu yang berbicara tentang asal-usul Valmiki, ceritanya ternyata tidak sesederhana itu.
Bahkan, kalau mengikuti sumber-sumber yang dikutip dalam tradisi Hindu sendiri, Valmiki justru dikaitkan dengan garis keturunan para Maharshi.
Mari kita lihat.
Dalam Valmiki Ramayana, Uttarakanda, Sarga 96, Sloka 19, Valmiki memperkenalkan dirinya sendiri kepada Rama:
प्रचेतसोऽहं दशमः पुत्रो राघवनन्दन।
वाल्मीकि नाम नाम्नाहं राम शिष्यस्तव प्रभो॥
Pracetasó ’haṁ daśamaḥ putro Rāghavanandana,
Vālmīki nāma nāmnāhaṁ Rāma śiṣyas tava prabho.
“Wahai Raghavanandana (Rama), aku adalah putra kesepuluh Pracheta. Namaku Valmiki, dan aku adalah muridmu, wahai Rama.”
Perhatikan baik-baik.
Valmiki sendiri menyebut siapa leluhurnya.
Bukan Bhangi (kasta dalit)
Bukan keturunan perampok.
Bukan orang yang tidak jelas asal-usulnya.
Ia menyebut dirinya sebagai putra Pracheta.
Lalu siapa Pracheta?
Di sinilah persoalannya semakin menarik.
Untuk mengetahui siapa Pracheta, kita perlu melihat Manusmriti. Dalam Manusmriti 1.34–35), Brahma sendiri berkata kepada Manu:
अहं प्रजाः सिसृक्षुस्तु तपस्तप्त्वा सुदुश्चरम् । �पतीन् प्रजानामसृजं महर्षीनादितो दश ॥ ३४ ॥
“Aku, yang berkeinginan menciptakan makhluk-makhluk, setelah menjalani tapa yang sangat berat, pada awalnya menciptakan sepuluh Maharshi sebagai para leluhur makhluk-makhluk.”
Kemudian disebutkan:
मरीचिमत्र्यङ्गिरसौ पुलस्त्यं पुलहं क्रतुम् ।
प्रचेतसं वसिष्ठं च भृगुं नारदमेव च ॥ ३५ ॥
marīcimatryaṅgirasau pulastyaṃ pulahaṃ kratum|
pracetasaṃ vasiṣṭhaṃ ca bhṛguṃ nāradameva ca || 35 ||
“Marici, Atri, Angiras, Pulastya, Pulaha, Kratu, Pracheta, Vasistha, Bhrigu, dan Narada.”
Dari kedua sloka tersebut dapat dipahami bahwa Pracheta adalah putra Brahma, sedangkan Valmiki adalah putra Pracheta. Dengan demikian, menurut silsilah yang dikemukakan dalam teks tersebut, Valmiki sejak lahir merupakan seorang Brahmana, dan ia dilahirkan dalam keluarga seorang rishi, bukan dalam keluarga seorang perampok.
“Tapi kan itu ada, Bang. Kisah Valmiki merampok?”
Iya, memang ada kisah seperti itu.
Dalam Skanda Purana, Avantya Khanda, Adhyaya 286, diceritakan bahwa sebelum dikenal sebagai Valmiki, ia bernama Agnisharma dan pernah menjadi seorang perampok.
Suatu ketika, Agnisharma menghadang Sapta Rishi di tengah hutan. Niatnya jelas: merampok mereka.
Tapi para rishi tidak langsung melawan. Mereka justru bertanya:
“Kamu merampok dan membunuh orang demi menghidupi orang tuamu. Apakah orang tuamu juga mau ikut menanggung dosa dari perbuatanmu?”
Agnisharma kemudian pulang untuk menanyakan hal tersebut kepada orang tuanya.
Ia bertanya apakah mereka bersedia ikut menanggung dosa dari perampokan dan pembunuhan yang selama ini ia lakukan demi memenuhi kebutuhan mereka.
Jawaban orang tuanya ternyata tidak seperti yang ia bayangkan.
Mereka menolak.
Mereka mengatakan bahwa memenuhi kebutuhan hidup orang tua adalah kewajiban Agnisharma, sedangkan dosa dari perbuatannya adalah tanggung jawabnya sendiri.
Mendengar jawaban tersebut, Agnisharma merasa sangat terpukul.
Ia kemudian meninggalkan kehidupan sebagai perampok dan melakukan tapa yang sangat berat.
Tapa itu dilakukan dalam waktu yang sangat lama sampai tubuhnya tertutup sarang semut.
Dalam bahasa Sanskerta, sarang semut disebut valmīka (वल्मीक).
Karena itulah, Agnisharma kemudian dikenal sebagai Valmiki.
“Berarti benar dong, Valmiki dulunya perampok?”
Kalau kita memakai versi Skanda Purana tersebut, iya.
Tapi sekarang jangan berhenti di bagian “perampoknya”.
Kita lihat dulu, Agnisharma itu sebenarnya anak siapa?
प्राचीनकाले सुमतिर्नाम भृगुवंश्यो ब्राह्मण आसीत् । तस्यैकः पुत्रोऽभवत् अग्निशर्मा नाम ।
“Pada zaman dahulu ada seorang Brahmana keturunan Bhrigu bernama Sumati. Ia mempunyai seorang putra bernama Agnisharma.”
Teks tersebut menyebut bahwa Agnisharma adalah putra Sumati.
Dan Sumati disebut sebagai seorang Brahmana dari keturunan Bhrigu.
Jadi kalau kita menerima cerita bahwa Agnisharma pernah menjadi perampok, maka kita juga harus menerima asal-usul yang diberikan oleh cerita yang sama:
Agnisharma adalah anak seorang Brahmana.
Bukan anak Bhangi.
Bukan keturunan yang tiba-tiba tidak jelas.
Urutannya:
Sumati
↓
Brahmana keturunan Bhrigu
↓
Agnisharma
↓
menjadi perampok
↓
bertobat dan bertapa
↓
dikenal sebagai Valmiki
Nah, di sini letak masalahnya.
Kalau ada yang berkata:
“Valmiki itu Bhangi (Kasta Dalit Keturunan rampok) karena dulu dia perampok.”
Maka itu sebenarnya mencampuradukkan dua hal.
Perampok adalah perbuatannya.
Bhangi adalah identitas kasta.
Seseorang bisa menjadi perampok tanpa otomatis lahir dari kasta Bhangi.
Itupun kan sebenarnya Valmiki merampok karena terpaksa itupun untuk memberi makan orang tuanya.
Bukankah Dalam Manawa Dharmasastra 10.105 dikatakan Maharsi Ajigatra tidak berdosa meski membunuh anaknya untuk dimakan ?
Apa dia kehilangan kastanya ?
Tidak. Karena posisinya darurat. (Versi Hindu lo ya)
Bahkan dalam kisah yang sedang dijadikan rujukan, orang yang disebut perampok itu justru anak seorang Brahmana keturunan Bhrigu.
Jadi kalau ada kisah Valmiki keturunan rampok itu dia menghalu…..
Yang membuat kisah sepertinya pengen jadi Brahmana tapi gak bisa jadi Brahmana.
Hanya menghibur diri saja😁
Kesimpulan
Valmiki Leluhurnya Brahamana
Bahkan Ayah dan Ibunya asli Brahmana
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1GzE6B7bJN/