Muhammadiyah anti rukyat?
Semenjak Muhammadiyah lahir hingga Presiden Soeharto lengser, menetapkn hilal selalu pakai Rukyah. Malah derajat hilalnya tinggi-tinggi, 4, 6. Tahun 90-an pernah istikmal tiga kali berturut-turut (?).
Era itu, Tim rukyah dari NU yang berhasil merukyah datang ke kantor Depag, berani disumpah selalu gak digubris. Kantornya ditutup dan sebagainya.
Bagi KH. Mahfudh Anwar, pakar Falak Jombang, dua derajat lebih sedikit sangat memungkinkan Rukyah. Maka NU sering Riyoyo duluan.
Pemerintah yang saat dikuasai Muhammadiyah selalu istikmal. Dalilnya, di TV, pasti ayat kewajiban taat kepada Ulil Amri. Maklum, Muhammadiyah lebih disayang Presiden Soeharto, namanya Anak emas kan.
Begitu Pak Harto lengser dan Gus Dur jadi Presiden, MD yang semula menguasai Depag dan pakai derajat tinggi mesti terlambat, berubah Total dengan MENGGUNAKAN METODE IMKAN AL-WUJUD meski tak mungkin bisa dirukyah.
Yang penting hilal sudah ada, di atas ufuk berapa pun derajatnya. Persetan dengan rukyah-rukyahan.
Dilihat dari sejarahnya, perubahan pola pikir Muhammadiyah soal hilal ini jelas terkait dengan situasi politik. Dan pembacaan ini sah-sah saja, ok.
Dulu, saat berkuasa, Dulur-dulur Muhammadiyah istiqamah hadir di sidang Itsbat dan berdasar rukyah. Kini…??
Di TV, dulu, demi pembenaran diri dan nyindir NU mereka ndalil “athi’u Allah wa athi’u Al-rasul wa Ulil Amr minkum. Sekarang..?
Beda, kalau NU sejak dulu, baik sedang berkuasa atau tidak berkuasa, selalu pakai Rukyah. Sementara Muhammadiyah, saat berkuasa dulu pakai Rukyah. Saat ini, tidak.
Demi maslahah umat, gimana kalau podo ngalahe sehingga bisa kompromi. Ibarat jual beli dan amrih dadine, yang atas turun dan yang bawah naik.
Contoh, hilal minimal satu derajat … atau..? Bisa dirukyah atau tidak..?
Perkara dalil sama-sama punya. Perkara argumen juga sama-sama punya.
Hanya orang bijak yang bisa mengedepankan masalah ammah, mengenyampingkan ego sektoralnya.
Apa pun adanya, sesama mukmin adalah sedulur dan al-Faqir tetap berucap :
تقبل الله منا ومنكم الصيام والقيام وجعلنا من العائدين الفائزين
والله معكم
Sumber : Dr KH Ahmad Musta'in Syafi'ie, pengasuh rubrik Tafsir Al Quran Aktual HARIAN BANGSA dan pengajar di Madrasatul Quran Tebuireng Jombang Jawa Timur
Tetep seduluran saklawase.
#nu #kyai @sorotan