Wanita Kerja, Laki-laki Sabung Ayam #hindu
"Ah, itu mah cuma ulah oknum. Di mana-mana juga ada sabung ayam."
Kalau kalimat ini keluar dari orang bukan Bali, mungkin masih bisa dimaklumi.
Benar, hampir setiap daerah mengenal sabung ayam. Dua ayam diadu, orang bertaruh, lalu selesai.
Tetapi tajen bukan sekadar sabung ayam.
Ini alasannya .....!
Jauh sebelum serdadu Belanda menginjakkan kaki di Pulau Bali, jauh sebelum pemerintah kolonial mengenal adat-istiadat masyarakat Bali, tradisi tajen telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat. Clifford Geertz dalam Notes on the Balinese Cockfight (1973) menjelaskan bahwa tajen adalah ritual asli agama Hindu Bali.
Hal ini bisa dilihat dalam setiap piodalan, yaitu perayaan hari jadi sebuah pura, maupun sejumlah upacara keagamaan besar lainnya, terdapat sebuah ritual yang disebut tabuh rah atau "persembahan darah". Ritual ini menjadi bagian dari upacara yang bertujuan memberikan persembahan kepada bhuta kala, yaitu makhluk-makhluk yang dalam kepercayaan Hindu Bali diyakini perlu diberikan persembahan agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
Berbeda dengan tradisi yang mempersembahkan darah melalui penyembelihan hewan, tabuh rah menggunakan pertarungan dua ekor ayam jantan. Dalam uraian Geertz, adu ayam dilakukan sebanyak tiga kali sebagai bagian dari prosesi upacara. Darah yang tertumpah dari pertarungan itulah yang dipandang sebagai bagian dari persembahan ritual.
Coba pikir, apa benar ini hanya sabung ayam biasa?
Tradisinya memiliki nama ritualnya tertentu, dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, jumlah tertentu, mengikuti tata cara tertentu, dan menjadi bagian dari rangkaian upacara keagamaan tertentu?
Masih bilang tajen sebagai adu ayam biasa?
Kalau jawabannya "ya", lalu mengapa ada buku yang secara khusus mengajarkan ilmu tajen?
Hari ini Anda cukup membuka Shopee dan mengetik "Tajen, Ilmu dan Doanya." Isinya bukan cerita fiksi, melainkan panduan memilih ayam, merawat ayam aduan, hingga doa-doa versi Hindu yang diyakini membawa Anda menang taruhan.
Sebuah praktik yang melahirkan ilmu, buku, dan tradisi lisan jelas bukan sekadar mainan adu ayam biasa!
Karena itu, menyamakan tajen dengan sabung ayam biasa sama seperti menyamakan gunung es dengan bongkahan es yang terapung di laut. Yang tampak di permukaan memang serupa, tetapi aslinya berbeda.
"Lalu kenapa lukisan perempuan Bali digambarkan bekerja di pasar, mengangkat barang, bahkan menjadi pekerja keras, sementara laki-lakinya hanya duduk dan mengadu ayam?"
Ya nggak tahu juga ya, yang pasti wanita Bali itu saya akui sangat tangguh, jadi kuli mau, jadi buruh angkut barang mau, tapi waktu pembagian warisan nggak dapat.
(Oh ya toh kemarin yang marah-marah juga Ibu Ibu Penjahit)
Tetapi di sisi lain, menarik melihat bagaimana dari dunia luar memandang "laki-laki malas, kerjaaannya ngelus-ngelus ayam, taruhan, dan buang-buang waktu nggak jelas”
Tapi berhasil oleh orang-orang itu dibuatkan buatkan alasan bahwa kerjaan tajen itu bukan simbol kemalasan, justru simbol kejantanan.
(Iya kejantanan, bahkan disamakan dengan alat nganunya laki-laki) ini disampaikan Dalam Jurnal "Budaya dan Perilaku Berjudi: Kasus Tajen di Bali" karya N. Trisna Aryanata, Program Studi Psikologi Institut Ilmu Kesehatan Medika Persada Bali,
Para laki-laki yang patriaki itu, Mereka menutupi kemalasannya dengan menjejali doktrin-doktrin ke anak-anaknya dan Isterinya bahwa arena tajen bukan tempat seorang laki-laki melarikan diri dari “tanggung jawab”, tapi tempat menunjukkan Jati diri sebagai laki-laki !.
Sebab katanya, Ia datang aslinya bukan sekedar membawa ayamnya, tapi membawa keberaniannya, membawa nama keluarganya, marganya, kastanya bahkan ada nama satu banjar (desa) yang ikut dipertaruhkan kehormatannya.
(katanya sih begitu)
(Sok penting lah)
“Tapi kan kalau Judi resiko rugi ! ” kata kita
Mereka biasanya jawab “Bli, Bli, bukankah semua usaha memiliki risiko?
Lihat Pedagang mempertaruhkan modalnya, petani mempertaruhkan tenaga dan musim, pengusaha mempertaruhkan uangnya. “
Begitu pula, aku, wku mempertaruhkan nasibnya !
Toh juga kalau menang, uangnya kembali ke anak-istri.”
Ya begitulah.
Yang menarik, penelitian psikologi yang dilakukan Putu Saras Apriyanti berjudul "Gambaran Motivasi Pelaku Tajen: Sebuah Tradisi Sabung Ayam di Bali"
Hati terdalam mereka pun sebenarnya mengakui bahwa mustahil dirinya kaya dari hasil uang panas.
"Kalau dibilang dari segi ekonomi mencari nafkah kan ndak bener itu. Ndak ada orang judi makin kaya kan gitu... Intinya sekali, hobi dah jadinya... Di waktu kita main ini punya perasaan bahagia... senang... Keuntungannya kita ada kebahagiaan di waktu judi sabungan ayam." Ujar P1 sambil menertawakan kekalahan dirinya yang sekian kali.
Salah satu curhatan Orang Bali sendiri, Putu Setia dalam bukunya Bali Mengunggat, bahwa kebiasaan sabung ini sampai jadi sterotip orang luar Bali ke Bali.
“Sampai sekarang pun saya sering mendapat pertanyaan, apa betul anak perempuan di Bali tidak disekolahkan sampai tinggi, sebagaimana anak lelakinya, karena pertimbangan "anak itu akan diambil orang". Masih ada anggapan di sebagian besar orang, menjadi perempuan di Bali adalah menjadi warga manusia kelas dua. Lihat itu, betapa parahnya perlakuan orang Bali terhadap kaum wanitanya. Mereka mencari pasir di sungai, mengangkutnya ke truck di atas jembatan. Para wanita Bali berjemur di panas terik mengaspal jalanan. Mereka naik sepeda sambil menjunjung bakul besar berisi barang dagangan. Sementara lelaki Bali sangat malas, kerjanya hanya mengelus-elus ayam aduan. Foto-foto manusia Bali yang pernah menyiratkan keindahan budaya itu, tiba-tiba berubah menjadi tamparan buat Bali.
Dan kini, ketika kesadaran umat manusia akan hak-hak asasi semakin tinggi, maka yang jelek-jelek kemudian menjadi identik dengan Bali. Sabungan ayam ada di seluruh daerah Indonesia dengan berbagai variasinya. Tetapi karena sabung ayam di Bali menjadi resmi - mudah sekali disaksikan karena tak dilarang oleh polisi - foto-foto ini sejak lama menghias berbagai media masa dan liputan televisi. Akibatnya, seolaholah sabung ayam yang ada di daerah luar Bali itu adalah hasil budaya buruk orang Bali.
Di Sumatra Selatan, misalnya, kalau polisi menggrebek sabung ayam pasti menyebutkan: judi ala Bali. Padahal yang melakukannya bukan lagi orang Bali. Di satu wilayah di NTT baru-baru ini dibubarkan sabungan ayam. Apa kata pejabat setempat: "Kalian jangan meniru orang Bali yang penjudi itu."
Waduh, sedihnya hati ini mendengar. Mau bilang apa? Soalnya di Bali judi sabung ayam tak pernah dibubarkan polisi. Polisi di Bali tak ikut "menjaga Bali".
Keluh Putu Setia…..
Nah, Kira-kira kenapa ya polisi tidak membubarkan ?
Apa takut karena itu ada bakingan aturan adat, atau jangan jangan itu aturan agama ?
——-
Untuk tulisan lebih detail soal Pandangan Hindu dan Judi, baca disini, ada kisah kisah bagaimana Pandawa bahkan Dewa Siwa pun kalah taruhan.
https://www.facebook.com/share/1Edcoa5tpo/?mibextid=wwXIfr
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JPuoZ3vxd/
