Nabi dituduh macam2, tapi tidak pernah dituduh sebagai pendusta
Seseorang yang mengaku nabi harus dikenal sangat jujur,
karena ia membawa pesan dari Tuhan.
Kalau ada seseorang mengaku sebagai Nabi tapi pernah terbukti “berbohong”, -meskipun hanya sekali-, maka dipastikan dia bukan Nabi..... Sebab, jika ia bisa berbohong dalam satu hal, maka kemungkinan untuk berbohong dalam hal lain tetap ada.
Lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad ?
Maka kita hanya punya dua pilihan:
Pilihan Pertama, kita menilai sosok Nabi Muhammad sebagai orang yang jujur, orang yang dapat dipercaya sepanjang hidupnya. Jika ini diterima, maka pengakuannya selama ini ia menerima wahyu dari Tuhan juga dianggap benar. Sebab orang yang jujur tidak mungkin sengaja berbohong dalam hal sebesar itu.
Atau Pilihan kedua berarti menilai Muhammad sebagai pembohong dan penipu terbesar yang pernah berjalan dimuka bumi.
Sebab dia telah berhasil Menipu 120.000 sahabatnya yang selalu bersamanya,
Berhasil mengarang ngarang ucapan demi ucapan yang katanya dari Tuhan selama 22 tahun.
Berpura-pura jujur, sabar dan iklas.
Supaya orang-orang percaya kepadanya.
Bahkan menampilkan kesan saleh di depan istri-istrinya.
Lalu bagaimana pandangan orang-orang yang hidup mengenal Nabi Muhammad ?
Bukti pertama
Menariknya, musuh-musuh nabi ternyata tidak pernah menuduh nabi “pembohong”
Menuduh NABI gila ada... surat al Hijr ayat 6 (karena rasa tak suka)
Menuduh Nabi tukang dongeng...ada surat al-Qalam ayat 13 (karena nabi menceritakan sejarah)
Menuduh Nabi hanya penyair ada (karena Quran sangat indah).
Menuduh mukjizat Nabi sebagai tukang sihir ...ada dalam surat Hud ayat 7 (karena nabi memperlihatkan mukjizat)
Dan berbagai celaan lainya.
Tapi anehnya.... tidak ada musuh-musuhnya yang pernah menuduh Nabi Muhammad “pembohong”.
Kenapa ?
Karena Nabi dikenal punya track record yang baik dalam sejarah.
Sebelum Nabi Muhammad ﷺ berusia 40 tahun dan diangkat menjadi Nabi, beliau telah dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai sosok yang sangat jujur, amanah, dan dapat dipercaya dalam setiap perkataan maupun perbuatan. Karena kejujurannya yang konsisten, beliau diberi gelar al-Amīn (الأمين), yaitu orang yang terpercaya.
Menariknya, meskipun pada siang hari sebagian penduduk Makkah mendustakan dan menolak ajaran kenabian yang beliau sampaikan kelak, pada malam harinya mereka tetap mempercayakan barang-barang dagangan dan harta mereka kepada beliau untuk dijaga. Hal ini menunjukkan adanya pengakuan yang kuat terhadap integritas pribadi Nabi Muhammad ﷺ, yang bahkan diakui oleh orang-orang yang menentang risalahnya sekalipun.
Bukti kedua, Musuh-Musuh Nabi Muhammad mengakui intergritasnya
Di antara peristiwa yang menunjukkan kepercayaan kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah ketika beliau diperintahkan oleh Allah untuk dakwah secara terang-terangan. Beliau kemudian naik ke Bukit Shafa dan memanggil:
“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani ‘Adi!”
Satu persatu suku disebut.
Mendengar itu masyarakat Makkah langsung bergerak tanpa menunda. Satu per satu orang datang dari berbagai arah Makkah, meninggalkan aktivitas mereka, hingga akhirnya tempat itu dipenuhi oleh manusia yang berdesakan.
Dalam tradisi mereka, seruan dari Bukit Shafa hanya dilakukan untuk hal-hal besar dan mendesak: seperti ancaman serangan musuh, bahaya yang tiba-tiba, atau peristiwa penting yang harus segera diketahui seluruh kabilah. Karena itu, panggilan dari sana tidak pernah dianggap biasa. Ia semacam alarm publik tingkat kota
Setelah mereka berkumpul, Nabi ﷺ mengajukan pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendalam:
“Seandainya aku mengatakan bahwa ada pasukan di lembah ini yang akan menyerang kalian, apakah kalian akan percaya?”
Mereka menjawab, “Ya, kami tidak pernah mendapati engkau kecuali jujur.”
Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum datangnya azab yang berat.”
Abu Lahab lalu berkata, “eh, Celaka kamu, Muhammad! Untuk inikah kamu mengumpulkan kami?”
Maka turunlah ayat: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan dia benar-benar binasa.”
Lihat, orang-orang yang menolak risalah beliau pun tidak sampai menuduh beliau berbohong. Penolakan mereka bukan karena meragukan kejujurannya, tetapi karena menolak ajaran tauhid dan masih ingin mengikuti agama leluhur mereka. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu. Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An‘am: 33)
Artinya, mereka tidak menganggap Nabi sebagai pendusta, tetapi menolak kebenaran karena keras kepala.
Bukti ketiga,
ada seorang sahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bercanda dengan kami?”
Beliau menjawab dengan jelas:
“Aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”
Artinya, walaupun bercanda, Nabi ﷺ tidak pernah berbohong atau mengatakan sesuatu yang tidak benar.
Contoh lain, suatu ketika ada seorang laki-laki yang meminta hewan tunggangan. Nabi ﷺ berkata, “Aku akan memberimu anak unta.”
Orang itu heran karena yang diminta adalah unta dewasa, bukan anak unta.
“Buat apa anak unta Ya Rasulullah ?”
Lalu Nabi ﷺ menjelaskan, “Bukankah setiap unta itu juga anak dari unta?”
Candaan ini membuat orang tersebut tersenyum, karena terdengar seperti “anak unta” kecil, padahal maksudnya adalah unta yang normal juga berasal dari induk unta.
Riwayat lain lagi,
Nabi pernah didatangi perempuan yang Ada seorang nenek datang kepada Nabi lalu berkata
“Wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah agar memasukan aku ke surga !”.
Maka Nabi berkata, “Wahai Umu Fulan, sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek”.
Maka wanita tersebut pergi dan menangis.
Maka Nabi berkata, “Kabarkanlah kepadanya bahwa ia tidak akan masuk surga dalam kondisi tua, sesungguhnya Allah berfirman : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”
(QS Al-Waqiáh : 35-37)
Nenek itu pun kemudian tersenyum kembali
(HR Tirmidzi).
Bahkan dalam becanda nabipun tak berbohong
Bukti keempat,
Heraklius, raja Romawi, ketika mendengar kabar tentang ada kemunculan Nabi di Arabia yang meresahkan, ia ingin memastikan langsung kebenarannya. Saat itu kebetulan Abu Sufyan yang masih kafir sedang berada di Syam bersama rombongan Quraisy untuk berdagang, lalu ia dipanggil untuk diwawancarai.
Heraklius bertanya “seberapa kenal kamu dengan pria itu ?”
Abu Sufyan “aku sangat kenal, dia saudaraku!”
Dilanjut bagaimana asal-usulnya, siapa pengikutnya dan apakah ia pernah dikenal berdusta sebelum mengaku sebagai nabi. Abu Sufyan menjawab bahwa Muhammad tidak pernah dikenal sebagai pendusta di kalangan mereka.
Mendengar itu, Heraklius menyimpulkan:
“Jika ia tidak pernah berdusta kepada manusia, maka tidak mungkin ia berdusta atas nama Allah.”
Ini adalah kesimpulan raja cerdas Heraklius berdasarkan rekam jejak yang ia dengar, bukan karena keimanan.
dari semua itu menunjukkan bahwa penolakan kalangan Quraisy kepada Nabi bukan karena meragukan intergritas pribadinya melainkan mereka hanya ingin mengikuti agama-agama leluhurnya.
. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu. Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An‘am: 33)
Seseorang yang membaca tentang kepribadian Nabi Muhammad berdasarkan data data sejarah pasti akan menyimpulkan kejujuran Nabi Muhammad, bahkan Orientalis Prancis bernama Paul Casanova , dalam bukunya Mohammed et la Fin du Monde: Étude critique sur l’Islam primitif sangat keras mengkritik Islam, namun ketika berbicara kejujuran nabi Muhammad ia tak mampu berkata-kata berkata:
“Saya merasa penting untuk menyatakan sejak awal bahwa saya menolak terlebih dahulu setiap teori yang meragukan kejujuran Muhammad merupakan sesuatu yang bertentangan dengan semangat ilmiah untuk menuduh—tanpa bukti—adanya penipuan dan motif kepentingan. Seluruh sejarah Nabi Arab ini membuktikan bahwa kepribadiannya bersifat positif jujur dan tulus.”
Paul Casanova, Mohammed et la Fin du Monde: Étude critique sur l’Islam primitif (Paris: Geuthner, 1911), p. 5.
Kesimpulan yang harus ditanggung oleh orang yang menuduh Nabi ﷺ tidak jujur sebenarnya sangat berat bahkan nyaris tak masuk akal.
Ia harus mampu menjelaskan ini:
bagaimana mungkin seorang laki-laki yang sepanjang hidupnya tampak begitu bersungguh-sungguh menegakkan tauhid, membersihkan manusia dari menyembah berhala yang hina,
hidup sederhana, tidak terpikat dunia, dan terus-menerus memperbaiki akhlak serta kehidupan manusia baik dalam keadaan lapang maupun sempit, damai maupun perang, marah maupun tenang ternyata justru menyembunyikan kebalikan total dari semua itu di dalam dirinya?
Artinya, ia harus mengatakan bahwa di balik sosok yang disaksikan oleh keluarga, sahabat, dan musuhnya siang-malam itu, tersembunyi pribadi yang mencintai kebohongan, hidup di atas kebohongan, dan menjadikan kebohongan sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai tujuannya.
Masalahnya: tuduhan seperti ini tidak sekadar ringan. Ia menuntut penjelasan yang sangat serius.
Karena semakin luas dan konsisten kesaksian sejarah tentang kejujuran Nabi ﷺ dalam seluruh kondisi hidupnya maka semakin sulit pula membayangkan adanya “wajah tersembunyi” yang bertolak belakang secara total.
Dengan kata lain, menuduh Nabi ﷺ sebagai pendusta bukan hanya soal berkata “ia berbohong”, tapi harus siap menjelaskan bagaimana mungkin kebohongan sebesar itu bisa tersembunyi rapi sepanjang hidup, tanpa terbongkar oleh orang-orang terdekatnya, tanpa kontradiksi yang nyata, dan tanpa jejak yang meyakinkan dalam sejarah.
apakah Muhammad mengaku Nabi untuk mencari dunia ?
https://www.facebook.com/share/p/1aCmmAjxjZ/