Panggil Namanya Saja, Jangan Panggil Anakku!
Orientalis selalu mengambarkan bahwa Rasulullah adalah jendral perang yang kejam, culas politiknya, keras wataknya, tamak akan harta, manuak nafsunya, mengidap gangguan jiwa dan segala sifat buruk disematkan padanya. Namun adakah hal yang dapat meyakinkan saya akan pribadi yang tingkat kepekaan emosialnya tinggi ini adalah pria yang kejam ?
Imam Asy-Suyuthi dalam Khaisaish Al-Kubra menceritakan:
Suatu hari, seorang sahabat kehilangan anaknya. Ia mencari anaknya dengan cemas, dan akhirnya ia menemukan anaknya sedang bermain bersama anak-anak lain. Di tempat yang tak jauh dari situ, ia melihat Rasulullah ﷺ duduk, mengamati anak-anak tersebut. Sang sahabat mendekati beliau dan mengucapkan salam.
“Ya Rasulullah, saya telah mencari anak saya, dan saya menemukannya sedang bermain di sini. Apakah saya boleh membawanya pulang?” tanya sang sahabat.
Rasulullah ﷺ menjawab, “Biarkan anakmu bermain sedikit lebih lama.”
Sang sahabat pun pergi dan kembali beberapa saat kemudian. Rasulullah ﷺ masih berada di tempat yang sama, memandangi anak-anak yang bermain. Sekali lagi, sang sahabat memohon izin untuk membawa anaknya pulang, dan Rasulullah ﷺ kembali meminta agar anak itu tetap bermain.
Sang sahabat pergi dan kembali lagi setelah beberapa waktu. Ketika ia meminta izin untuk membawa anaknya, kali ini Rasulullah ﷺ memberikan izin. “Sekarang kamu boleh mengambil anakmu.”
Sebelum sang sahabat sempat menghampiri anaknya dan memanggilnya, Rasulullah ﷺ memanggilnya kembali.
“Panggil anakmu, tetapi jangan panggil dengan sebutan ‘Anakku’,” kata Rasulullah ﷺ.
Sahabat itu merasa heran dan bertanya, “Ya Rasulullah, jika saya memanggilnya dengan kata ‘Anakku’, apakah itu masalah?”
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Rasulullah ﷺ menjawab, “Wahai sahabatku, di antara anak-anak itu ada beberapa anak yatim. Jika kamu memanggil anakmu dengan kata ‘Anakku’, mereka mungkin akan merasa kehilangan ayah mereka dan hati mereka akan menjadi sedih. Aku meminta agar kamu memanggil anakmu hanya dengan namanya, agar mereka tidak merasakan kesedihan yang mendalam.”
Sang sahabat pun mengambil anaknya dan kembali ke hadapan Rasulullah ﷺ untuk mengucapkan salam perpisahan. Namun ia kembali bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau duduk di sini, memandangi anak-anak ini?”
Rasulullah ﷺ, dengan air mata yang menetes, menjawab, “Aku duduk di sini, memandang mereka, agar mereka tahu bahwa meskipun mereka tak memiliki ayah, mereka tetap memiliki Rasulullah ﷺ yang akan merawat dan menjaga mereka.”