Ilmu tetap merujuk pada ahli ilmu, sekalipun sedang berkonflik
Di antara nikmat kepada orang berilmu adalah, ia dimusuhi oleh seseorang/sekelompok orang, tapi yang memusuhinya tetap butuh ilmu darinya!
Diriwayatkan pada saat Mu’āwiyah berkonflik dengan ‘Alī, terjadi kasus fikih yang berat, yakni lahirnya seorang khunthā mushkil (interseks yang memiliki 2 kelamin) di Syām dan harus diberikan jatah warisannya.
Maka Mu’āwiyah mengirim utusan untuk bertanya kepada ‘Alī tentang kasus tersebut. Maka Ali menjawab: “Tentukan jenis kelaminnya dengan melihat dari kelamin mana dia buang air kencing”.
Setelah itu, ‘Alī memuji Allah seraya berkata,
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan orang yang memusuhi kami merujuk kepada kami dalam urusan dinnya”.
al-Juwaynī menulis:
«وسئل معاويةُ في خنثى ولد بالشام، له ما للرجال، وله ما للنساء، فكتب معاوية إلى عليٍّ يسأله عن ميراثه، فقال: " يورّث من قِبل مباله ". ثم قال: " الحمد لله الذي جعل عدوَّنا يفزع إلينا في أمر دينه». «نهاية المطلب في دراية المذهب» (9/ 305)
***
Perhatikan keikhlasan ‘Alī yang tetap menjawab dan tidak melarang pengajaran ilmu kepada orang yang membencinya dan memusuhinya sekalipun!
Sebab ilmu dari Allah adalah amanah.
Harus diajarkan kepada siapapun yang membutuhkan, walau yang membutuhkan itu menyakiti kita sekalipun!
Perhatikan juga keikhlasan Mu’āwiyah.
Walaupun beliau berkonflik dengan ‘Alī, tetapi beliau tetap mengakui keilmuan ‘Alī dalam ijtihad dan fatwa din tetap di atas beliau sehingga tidak gengsi untuk meminta fatwa dan merendahkan diri sebagai murid di hadapan beliau.
Tidak mungkin orang berperilaku seperti ini jika tujuan hidupnya bukan rida Allah.
Sekeras apapun konflik dengan sesama mukmin, tetapi beliau tetap menolak berdusta atas nama Allah, membuat Allah murka, dan menyesatkan orang-orang yang dipimpinnya atas nama din!
Rahimahumullah…
Para Sahabat saat berkonflik sekalipun tetap memberi teladan indah kepada kita.
Oleh: Muafa