Cara Membentengi Warga NU dari Paham Salafi Wahabi
Cara Membentengi Warga NU dari Paham Sesat Salafi-Wahabi
Warga Nahdlatul Ulama (NU) dapat membentengi diri dari pengaruh paham Salafi Wahabi dengan cara memperkuat pemahaman terhadap ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah dan mengamalkan tradisi keagamaan yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan:
A. Memperkuat Pemahaman Aswaja An-Nahdliyah
1. Mempelajari Akidah dan Fikih
Mendalami ajaran NU yang bersumber dari Al-Qur'an, Hadis, dan pendapat ulama terdahulu (salaf), dengan mengikuti salah satu mazhab fikih yang diakui (Syafi'i, Maliki, Hanafi, Hambali).
Hal ini membantu memahami Islam secara komprehensif dan tidak mudah menyalahkan amalan orang lain.
2. Mengikuti Kajian dan Majelis Ilmu
Aktif menghadiri majelis taklim, pengajian, dan forum-forum keagamaan yang dibina oleh ulama atau kiai NU yang kompeten. Ini memastikan sumber informasi keagamaan terpercaya dan sesuai dengan manhaj NU.
3. Literasi Keagamaan
Membaca buku-buku dan sumber informasi terpercaya yang menjelaskan tentang Aswaja dan juga menguraikan kekeliruan cara pandang Salafi Wahabi.
B. Mengamalkan dan Melestarikan Tradisi Keagamaan Lokal
1. Menghidupkan Amaliyah NU
Terus mengamalkan tradisi keagamaan seperti tahlil, ziarah kubur, maulid Nabi, dan tawassul, yang sering kali dianggap bid'ah oleh kelompok Salafi Wahabi. Pengamalan ini memperkuat identitas keagamaan khas Nahdliyin.
2. Aktif dalam Kegiatan Komunitas
Berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan NU, mulai dari tingkat ranting hingga pusat. Keterlibatan dalam kegiatan seperti peringatan hari besar Islam (PHBI) dan pertemuan rutin (misalnya, bahtsul masail) akan mempererat ikatan sosial dan keagamaan.
C. Waspada terhadap Pola Dakwah Salafi Wahabi
1. Mengenali Ciri-ciri Dakwahnya
Paham Salafi Wahabi sering mengampanyekan jargon "kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis" secara tekstual, menolak mazhab fikih, dan cenderung menganggap amalan yang tidak dilakukan pada zaman Nabi sebagai bid'ah.
2. Menjaga Sikap Inklusif dan Moderat
Ajaran NU menekankan sikap moderat (tawasut) dan toleransi (tasamuh) dalam perbedaan pandangan, serta menghindari sikap kaku, arogan, atau mudah mengkafirkan orang lain (takfiri).
3. Bijak Bermedia Sosial
Menggunakan media sosial secara bijak dan selektif terhadap konten-konten keagamaan. Banyak penyebaran paham lain terjadi melalui media daring, sehingga penting untuk memastikan keabsahan dan sumber ajarannya.
Dengan memperkuat aspek akidah, amaliyah, dan sosial, warga NU dapat membentengi diri dan keluarga dari pengaruh paham Salafi Wahabi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama.