HPK

mesothelioma survival rates,structured settlement annuity companies,mesothelioma attorneys california,structured settlements annuities,structured settlement buyer,mesothelioma suit,mesothelioma claim,small business administration sba,structured settlement purchasers,wisconsin mesothelioma attorney,houston tx auto insurance,mesotheliama,mesothelioma lawyer virginia,seattle mesothelioma lawyer,selling my structured settlement,mesothelioma attorney illinois,selling annuity,mesothelioma trial attorney,injury lawyer houston tx,baltimore mesothelioma attorneys,mesothelioma care,mesothelioma lawyer texas,structered settlement,houston motorcycle accident lawyer,p0135 honda civic 2004,structured settlement investments,mesothelioma lawyer dallas,caraccidentlawyer,structured settlemen,houston mesothelioma attorney,structured settlement sell,new york mesothelioma law firm,cash out structured settlement,mesothelioma lawyer chicago,lawsuit mesothelioma,truck accident attorney los angeles,asbestos exposure lawyers,mesothelioma cases,emergency response plan ppt,support.peachtree.com,structured settlement quote,semi truck accident lawyers,auto accident attorney Torrance,mesothelioma lawyer asbestos cancer lawsuit,mesothelioma lawyers san diego,asbestos mesothelioma lawsuit,buying structured settlements,mesothelioma attorney assistance,tennessee mesothelioma lawyer,earthlink business internet,meso lawyer,tucson car accident attorney,accident attorney orange county,mesothelioma litigation,mesothelioma settlements amounts,mesothelioma law firms,new mexico mesothelioma lawyer,accident attorneys orange county,mesothelioma lawsuit,personal injury accident lawyer,purchase structured settlements,firm law mesothelioma,car accident lawyers los angeles,mesothelioma attorneys,structured settlement company,auto accident lawyer san francisco,mesotheolima,los angeles motorcycle accident lawyer,mesothelioma attorney florida,broward county dui lawyer,state of california car insurance,selling a structured settlement,best accident attorneys,accident attorney san bernardino,mesothelioma ct,hughes net business,california motorcycle accident lawyer,mesothelioma help,washington mesothelioma attorney,best mesothelioma lawyers,diagnosed with mesothelioma,motorcycle accident attorney chicago,structured settlement need cash now,mesothelioma settlement amounts,motorcycle accident attorney sacramento,alcohol rehab center in florida,fast cash for house,car accident lawyer michigan,maritime lawyer houston,mesothelioma personal injury lawyers,personal injury attorney ocala fl,business voice mail service,california mesothelioma attorney,offshore accident lawyer,buy structured settlements,philadelphia mesothelioma lawyer,selling structured settlement,workplace accident attorney,illinois mesothelioma lawyer
Pertanyaan

Saat Cinta Nabi Ditolak

Jawaban:

 ::::: Ada Cinta Lama Nabi yang Belum Kesampaian? :::::


Jujurly, kalo boleh disebut seperti istilahnya anak muda hari ini, cinta pertamanya Nabi ya ke Fakhitah; anak perempuan dari Abu Thalib, saudari dari Ali bin Abu Thalib, sepupu dari Nabi, sering disebut Ummu Hani’.


Nabi Muhammad lahir sekitar tahun 570 atau 571 M, sedangkan Ummu Hani’ lahir sekitar tahun 576 M, selisih 5 atau 6 tahun lebih muda dari Nabi. 


Cintanya Nabi kepada Fakhitah ini benar-benar CLBK, cinta lama belum kelar-kelar, cinta lama belum kesampaian, cinta lama berakhir keinginan, coba lagi besok kak.


Ketika laki-laki dan perempuannya mau, orang tuanya ga setuju. Orang tua sudah tak masalah, perempuannya tak mau. Perempuannya mau, laki-lakinya tak bisa. Tapi, ya dari dulu begitulah cinta…


::: Berkeinginan Menikahi tapi tak Direstui Orang Tua Perempuan :::


Jauh sebelum Nabi Muhammad menjadi Nabi, beliau pernah datang kepada pamannya, Abu Thalib, untuk meminang Umm Hānī.


Namun, sang paman menikahkan putrinya dengan orang lain — Hubayrah bin Abī Wahb, bangsawan Quraisy dari Bani Makhzūm.


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: خَطَبَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِلَى أَبِي طَالِبٍ ابْنَتَهُ أُمَّ هَانِئٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ. وَخَطَبَهَا هُبَيْرَةُ بْنُ أَبِي وهب بن عمرو بن عائذ بن عمران بن مخزوم. فتزوجها هبيرة فقال النبي: يا عم زوجت هبيرة وتركتني؟ فقال: يا ابن أَخِي إِنَّا قَدْ صَاهَرْنَا إِلَيْهِمْ وَالْكَرِيمُ يُكَافِئُ الْكَرِيمَ. (ابن سعد (المتوفى: 230هـ)، الطبقات الكبرى، 8/ 120)


Dari Ibnu ‘Abbās berkata: Nabi ﷺ melamar kepada Abu Thalib putrinya, Umm Hānī, pada masa jahiliyah. Namun pada waktu yang sama, Hubayrah bin Abī Wahb bin ‘Amr bin ‘Āidz bin ‘Imrān bin Makhzūm juga melamarnya. Lalu Abu Thalib menikahkan Umm Hānī dengan Hubayrah.


Maka Nabi ﷺ berkata, “Wahai pamanku, engkau menikahkan Hubayrah dan meninggalkanku?” Abu Thalib menjawab: “Wahai anak saudaraku, kami telah menjalin hubungan keluarga dengan mereka, dan orang mulia itu membalas (menghormati) orang mulia.” (Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat, 8/120)


Tak ada marah, tak ada kecewa. Hanya senyum yang menerima takdir Allah dengan tenang. Cinta beliau tetap suci, tak berubah menjadi luka.


::: Coba Melamar Lagi :::


Bertahun-tahun kemudian, Umm Hānī masuk Islam.

Suaminya lari ketika Fathu Makkah, meninggalkan keluarga.

Saat itu Rasulullah ﷺ datang lagi, melamarnya dengan penuh kasih. 


Tapi kali ini lamaran tidak diterima Ummu Hani’, alasannya karena masih memiliki anak kecil, khawatir tak bisa melayani suami dengan baik, khawatir tak bisa memberi kasih sayang ke anak-anak.


Dalam hadis shahih Muslim diceritakan:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، خَطَبَ أُمَّ هَانِئٍ، بِنْتَ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ، وَلِي عِيَالٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ». (صحيح مسلم (4/ 1959)


Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melamar Ummu Hani' binti Abu Thalib, lalu Ummu Hani' berkata:

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sudah tua dan aku punya banyak anak."

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sebaik-baik wanita yang menunggangi [unta]." (HR. Muslim, 4/1959)


Sebagaimana diceritakan pula oleh Ibnu Sa’ad dengan lebih detail:


ثُمَّ أَسْلَمَتْ فَفَرَّقَ الإِسْلامُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ هُبَيْرَةَ فَخَطَبَهَا رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِلَى نَفْسِهَا فَقَالَتْ: وَاللَّهِ إِنْ كُنْتُ لأُحِبُّكَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَكَيْفَ فِي الإِسْلامِ؟ وَلَكِنِّي امرأة مصيبة وَأَكْرَهُ أَنْ يُؤْذُوكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ: خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْمَطَايَا نِسَاءُ قُرَيْشٍ. أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ. (ابن سعد (المتوفى: 230هـ)، الطبقات الكبرى، 8/ 120)


Kemudian Umm Hānī masuk Islam, dan Islam memisahkan antara dia dengan suaminya Hubayrah. Lalu Rasulullah ﷺ melamarnya untuk diri beliau.

Umm Hānī berkata: “Demi Allah, aku dahulu mencintaimu di masa jahiliyah, apalagi sekarang di masa Islam. Tapi aku adalah seorang wanita yang banyak mengalami ujian, dan aku tidak ingin engkau tersakiti karenaku.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik wanita yang pernah menunggang kendaraan adalah wanita Quraisy: mereka paling penuh kasih kepada anaknya di masa kecilnya, dan paling menjaga hak suaminya.” (Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat, 8/120)


::: Ummu Hani’ Juga Punya Perasaan yang Sama Sejak Lama, Tapi… :::


Meski sebenarnya Ummu Hani’ juga mencintai Nabi bahkan sejak sebelum jadi Nabi. Bahkan lebih dicintai daripada mata dan telinganya sendiri. Tapi lamaran itu tetap ditolak.


Ini menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan seorang wanita beriman. Ia tidak ingin pernikahan yang suci menjadi beban bagi dirinya atau bagi Rasulullah ﷺ.


Alasan yang disampaikan Ummu Hani’ ketika menolak lamaran Nabi adalah karena khawatir tak bisa sepenuhnya melayani suami dan merawat anak-anak.


Ibnu Sa’ad menuliskan:


عَنْ عَامِرٍ قَالَ: خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أُمَّ هَانِئٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ سَمْعِي وَبَصَرِي. وَحَقُّ الزَّوْجِ عَظِيمٌ فَأَخْشَى إِنْ أَقْبَلْتُ عَلَى زَوْجِي أَنْ أُضَيِّعَ بَعْضَ شَأْنِي وَوَلَدِي وَإِنْ أَقْبَلْتُ عَلَى وَلَدِي أَنْ أُضَيِّعَ حَقَّ الزَّوْجِ. (ابن سعد (المتوفى: 230هـ)، الطبقات الكبرى، 8/ 120)


Dari ‘Āmir berkata: Rasulullah ﷺ melamar Umm Hānī, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada pendengaranku dan penglihatanku. Tetapi hak seorang suami sangat besar.


Aku khawatir jika aku mengutamakan suamiku, aku menelantarkan urusan dan anak-anakku. Dan jika aku mengutamakan anak-anakku, aku menelantarkan hak suami.” (Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat, 8/120).


Cinta yang tak jadi menikah pun berubah menjadi penghormatan yang abadi. Nabi tetap memuji Ummu Hani’.


Salah satu bukti cinta Ummu Hani’ adalah meski sedang berpuasa, dia tak melewatkan untuk minum dari bekas minumnya Nabi. Ibnu Sa’ad menyebutkan:


عَنْ أَبِي نَوْفَلِ بْنِ أَبِي عَقْرَبٍ قَالَ: دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَى أُمِّ هَانِئٍ فَخَطَبَهَا إِلَى نَفْسِهَا قَالَتْ: كَيْفَ بِهَذَا ضجيعا وَهَذَا رَضِيعًا؟ لِوَلَدَيْنِ بَيْنَ يَدَيْهَا. فَاسْتَسْقَى فَأُتِيَ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَهَا فَشَرِبَتْ سُؤْرَهُ فَقَالَتْ: لَقَدْ شَرِبْتُ وَأَنَا صَائِمَةٌ. قَالَ: فَمَا حَمَلَكِ عَلَى ذَلِكَ؟ قَالَتْ: مِنْ أَجْلِ سُؤْرِكَ. لَمْ أَكُنْ لأَدَعُهُ لِشَيْءٍ لَمْ أَكُنْ أَقْدِرُ عَلَيْهِ. فَلَمَّا قَدَرْتُ عَلَيْهِ شَرِبْتُهُ. (ابن سعد (المتوفى: 230هـ)، الطبقات الكبرى، 8/ 120)


Dari Abū Naufal bin Abī ‘Aqrab berkata:

Rasulullah ﷺ masuk ke rumah Umm Hānī dan melamarnya.

Umm Hānī berkata sambil menunjuk dua anak di depannya:

“Bagaimana denganku, yang satu ini tidur di sisiku, dan yang satu ini masih menyusu?” Kemudian Nabi ﷺ meminta minum, dibawakan susu, beliau minum lalu memberikannya kepada Umm Hānī.

Ia pun meminumnya. Umm Hānī berkata: “Aku meminumnya padahal aku sedang berpuasa.” Nabi ﷺ bertanya: “Apa yang membuatmu melakukannya?” Ia menjawab: “Karena bekas minummu, wahai Rasulullah. Aku tidak akan melewatkannya selama aku mampu.” (Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat, 8/120).


::: Ummu Hani’ Sudah Mau, Al-Qur’annya tak Boleh :::


Cerita cinta Nabi dengan Ummu Hani’ menjadi gambaran antara cinta, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap wahyu harus seimbang.


Ketika situasinya sudah lebih tenang dan anak-anaknya dewasa, Ummu Hani datang dan berkata seperti isyarat “aku siap sekarang”.


Tapi ternyata turun Surat al-Ahzab: 50, dimana Nabi boleh menikahi anak dari pamannya, asal dia ikut hijrah dari Makkah ke Madinah.


Ummu Hani tidak termasuk di antara wanita yang berhijrah ke Madinah, karena ia tinggal di Makkah. Maka secara hukum, beliau tidak boleh menikahinya lagi.


Ibnu Sa’ad menceritakan:


عن أَبي صَالِحٍ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ قَالَ: خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ أُمَّ هَانِئِ بِنْتَ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي مُوتِمَةٌ وَبَنِيَّ صِغَارٌ. قَالَ: فَلَمَّا أَدْرَكَ بَنُوهَا عَرَضَتْ نَفْسَهَا عَلَيْهِ فَقَالَ: [أَمَّا الآنَ فلا. لأن الله أنزل عليه: «يا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنا لَكَ أَزْواجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ» الأحزاب: 50. إِلَى قَوْلِهِ: «اللَّاتِي هاجَرْنَ مَعَكَ» الأحزاب: 50. (ابن سعد (المتوفى: 230هـ)، الطبقات الكبرى، 8/ 120)


Dari Abu Shalih, maula (mantan budak) Umm Hānī berkata:

Rasulullah ﷺ pernah melamar Umm Hānī binti Abu Thalib.

Umm Hānī berkata:

“Wahai Rasulullah, aku adalah seorang janda dan anak-anakku masih kecil.”cKetika anak-anaknya sudah dewasa, ia menawarkan dirinya kepada Rasulullah ﷺ, namun beliau bersabda: “Sekarang tidak lagi, karena Allah telah menurunkan firman-Nya: ‘Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah engkau berikan maharnya… hingga firman-Nya: wanita-wanita yang berhijrah bersamamu’ (QS. Al-Ahzab: 50).” (Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat, 8/120).


Membaca kisah ini, banyak sekali kesimpulan di kepala. Apa kesimpulan paling unik menurut antum?


Oh, iya. Hari Jum'at jangan lupa perbanyak shalawat. :)

Aqidah (70) Arbain (8) Distribusi (1) Fiqih (134) Hadist (35) Jenazah (4) Khotbah (3) Kisah Hikmah (20) Kisah Teladan (6) Kutipan (321) Pajak (5) Pasar (5) Pendidikan Islam (19) Penjualan (3) Pernikahan (7) Puasa (14) Qurban (1) Ramadhan (11) Segmentasi (1) Shalat (19) Soal Ekonomi (8) Soal PKn (5) Syubhat (5) Tafsir (5) Thaharah (1) Uraian (2) Zakat (1)