Asal Usul Rebo Wekasan
๐น๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข ๐๐๐ฐ๐: ๐๐๐๐ฎ ๐๐๐ซ๐๐ค๐ก๐ข๐ซ ๐๐๐ฉ๐๐ซ, ๐๐๐ซ๐ข ๐๐ฎ๐ฅ๐๐ข ๐๐๐ค๐ข๐ญ๐ง๐ฒ๐ ๐๐๐ง๐ฃ๐๐ง๐ ๐๐๐๐ข ๐ฌ๐๐ฐ
Orang Jawa biasanya akan mengadakan ๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐ atau doa permohonan agar diberi keselamatan pada malam Rabu terakhir bulan Sapar. Biasanya disebut Rebo Pungkasan. Ada pula yang menyebut Rebo Wekasan. Di Aceh, kata mahasiswa saya yang meneliti di sana, acara ini disebut Rabu Abeh. Mengapa diadakan ๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐?
Selama kami menelusuri geliat tradisi Rebo Pungkasan ini, ๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐ berhubungan dengan upaya orang Jawa-Islam untuk mengambil pelajaran dari peristiwa sakitnya Kanjeng Nabi Muhammad saw, yaitu sakit kepala, pada hari Rabu, tepat di akhir bulan Sapar (al-Shalihi al-Syami, ๐๐ข๐๐ข๐ ๐๐-๐ป๐ข๐๐ ๐ค๐ ๐๐-๐ ๐๐ ๐ฆ๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐พโ๐๐๐ ๐๐-'๐ผ๐๐๐, 1993: 237). Setelah memerintahkan ekspedisi pasukan ke Syam di bawah komando Usamah bin Zaid (Haikal, Cet. 42, 2014, 571). Selepas 13 hari sakit, Kanjeng Nabi saw meninggal tepat pada Senin, 12 Rabiul Awal.
Setelah satu-dua hari sakit, Kanjeng Nabi saw diperintahkan untuk berziarah ke makam Baqi’ pada malam hari. Setelah berziarah, sakitnya bertambah dahsyat. Mulai tidak bisa mengimami salat pada 8 Rabiul Awal, tepatnya hari Kamis. Lalu digantikan oleh baginda Abu Bakar al-Shiddiq.
Orang Jawa-Islam berkaca pada kisah ambruknya Kanjeng Nabi Muhammad saw ini. Sehingga mereka mengadakan ๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐ agar Allah swt berkenan menyelamatkan dari berbagai penyakit, bala, dan semacamnya. Kira-kira, orang Jawa-Islam membahasakannya begini: "Lha wong junjungan kami saja bisa terkena penyakit di Rabu akhir Sapar, apalagi kami umatnya ini".
Dalam Serat ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐, pahala amal saleh dalam ๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐ itu dihadiahkan kepada baginda Abu Bakar al-Shiddiq, yang dibahasakan dengan: ๐๐ข๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ข ๐๐๐๐๐. Mengapa kepada sang khalifah awal itu? Tentu saja karena sosoknya adalah pengganti Kanjeng Nabi saw dalam mengimami salat kaum muslimin. Dan, itu sebagai "isyarat" Kanjeng Nabi saw akan dipilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pasca wafatnya.
Di Wonokromo, Bantul, ๐ ๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐ diwujudkan dengan membuat lemper raksasa. Warga masyarakat per-RT juga membuat lemper. Kemarin kata Pak Mustamid yang merupakan Dukuh Jejeran, setiap RT diarahkan untuk membuat lemper sekira 200 biji. Mengapa lemper? Lemper ini adalah simbol dari sedekah. Ia dikaitkan sebagai simbol api amarah (lampor) yang harus "dibuang" dengan membasuhnya dengan "air" sedekah. Di berbagai daerah di Jawa akan bersemarak dengan pembuatan berbagai makanan yang semuanya merupakan materi sedekah.
Salah-satu amalan lain yang dilakukan oleh orang Jawa-Islam pada ๐ ๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐ atau Rabu terakhir bulan Sapar adalah: ๐ฆ๐๐ง๐๐ข ๐๐ข๐ซ ๐ญ๐ฎ๐ฃ๐ฎ๐ก ๐ฌ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ซ, atau air tujuh mata air, atau air tujuh kali, atau ari tujuh laut. Ini hadis sahih bahwa di saat awal-awal sakit itu, Kanjeng Nabi saw meminta istri-istrinya untuk diguyuri dengan air tujuh mata air (๐ ๐๐' ๐๐๐๐๐) (al-Bukhari, no. 198).
Dengan demikian, amaliyah ๐ ๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐ yang diamalkan oleh orang Jawa-Islam dan kaum muslimin di Nusantara, jelas itu memiliki dasar. Tidak ngawur.
Salamun ngalaikum thibtum ya Ahla Mataram...
Wallahu a'lam
.
Monggo sami rawuh