Berlibur dengan Ziarah
Liburan Pondok Dengan Ziarah
Syaban dalam kalender pendidikan pesantren adalah akhir periode sebelum liburan Ramadan. Para santri sudah setahun dicekoki ngaji dan sekolah Diniyah maupun Formal, juga ujian kenaikan kelas. Lelah pikiran diperintahkan dalam hadis agar beristirahat:
ﺭﻭﺣﻮا اﻟﻘﻠﻮﺏ ﺳﺎﻋﺔ ﻓﺴﺎﻋﺔ
"Istirahatkan hatimu sejenak" (HR Al-Qudha'i dari Az-Zuhri secara Mursal)
Ahli hadis dari Mesir, Syekh Abdurrauf Al-Munawi, menjelaskan bahwa hadis di atas memiliki sumber riwayat lain dalam hadis Sahih. Yakni ketika Sahabat Handzalah datang kepada Nabi dan mendengar pelajaran tentang neraka, namun ketika pulang bercanda dengan anak dan istri. Ia pun mengadu kepada Nabi apakah perbuatan tersebut bagian dari munafik? Nabi shalallahu alaihi wasallam menjawab:
ﻳﺎ ﺣﻨﻈﻠﺔ ﺳﺎﻋﺔ ﻭﺳﺎﻋﺔ
"Wahai Handzalah! sesekali mendengar tentang akhirat dan sesekali istirahatkan hati" (HR Muslim)
Memangnya ada tuntunannya ziarah ke makam-makam? Baiklah kita cantumkan sosok ulama ahli hadis, Ibnu Hibban 354 H, yang sangat gemar ziarah ke makam para ulama lintas negara. Beliau berasal dari Samarkand, rajin sekali menziarahi ulama di kota tersebut, sebagaimana pengakuan beliau:
فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ بْنِ مَنْصُوْرٍ أَبُوْ عَلِى مَوْلِدُهُ بِسَمَرْقَنْدَ .مَاتَ بِهَا سَنَةَ سَبْعٍ وَثَمَانِيْنَ وَمِائَةٍ وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ قَدْ زُرْتُهُ مِرَارًا
“Fudlail bin Iyadl bin Mansur, kelahirannya di SAMARKAND. Meninggal disana tahun 187 H. Makamnya sudah masyhur dan diziarahi. Saya berziarah berkali-kali” (Ibnu Hibban, Masyahir Ulama al-Amshar 1/84)
Bergeser ke Negeri Syam, Ibnu Hibban mencatat perjalanan ziarahnya:
أَبُوْ الدَّرْدَاءِ عُوَيْمِرُ بْنُ عَامِرِ بْنِ زَيْدٍ اْلاَنْصَارِي مَاتَ سَنَةَ اثْنَتَيْنِ وَثَلاَثِيْنَ وَقَبْرُهُ بِبَابِ الصَّغِيْرِ بِدِمَشْقَ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ قَدْ زُرْتُهُ غَيْرَ مَرَّةٍ
“Abu Darda’, Uwaimir bin Amir bin Zaid al-Anshari 32 H. Makamnya di ‘Pintu Kecil’ di DAMASKUS sudah dikenal dan diziarahi. Saya (Ibnu Hibban) sudah berziarah lebih dari sekali” (Ibnu Hibban, Masyahir Ulama al-Amshar 1/84)
Rihlah ziarahnya beliau lanjutkan ke Negeri Irak, kali ini makam Sufyan dan Ibnu Sirin:
مُحَمَّدُ بْنُ سِيْرِيْنَ اْلاَنْصَارِي أَبُوْ بَكْرٍ مَوْلِدُهُ لِسَنَتَيْنِ بَقِيَتَا مِنْ خِلاَفَةِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَمَاتَ بِالْبَصْرَةِ فِي شَوَّالَ بَعْدَ الْحَسَنِ بِمِائَةِ يَوْمٍ وَقَبْرُهُ بِإِزَاءِ قَبْرِ الْحَسَنِ بِالْبَصْرَةِ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ وَقَدْ زُرْتُهُمَا غَيْرَ مَرَّةٍ
“Muhammad bin Sirin al-Anshari lahir 2 tahun tersisa dari masa khilafah Utsman bin Affan. Ia wafat di Bashrah di bulan Syawal setelah 100 hari wafatnya Hasan. Makamnya di BASHRAH (Irak) dikenal dan diziarahi. Saya sudah menziarahi keduanya lebih dari sekali” (Ibnu Hibban, Masyahir Ulama al-Amshar 1/143)
سُفْيَانُ بْنُ سَعِيْدِ بْنِ مَسْرُوْقِ بْنِ حَمْزَةَ بْنِ حُبَيْبٍ الثَّوْرِي كَانَ مَوْلِدُ سُفْيَانَ سَنَةَ خَمْسٍ وَتِسْعِيْنَ وَمَاتَ بِالْبَصْرَةِ مُخْتَفِيًا عِنْدَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِى وَفِى دَارِهِ مَاتَ فِي َشَعْبَانَ سَنَةَ إِحْدَى وَسِتِّيْنَ وَمِائَةٍ وَقَبْرُهُ بِالْبَصْرَةِ فِي مَقْبَرَةِ بَنِى كُلَيْبٍ قَدْ زُرْتُهُ مِرَارًا
“Sufyan bin Said bin Masruq bin Hamzah bin Habib ats-Tsauri, lahir pada tahun 95 H. Wafat pada 161 H. Makamnya di BASHRAH, di pemakaman Bani Kulaib, saya sudah berziarah berkali-kali” (Ibnu Hibban, Masyahir Ulama al-Amshar 1/268)
Apa ada dalilnya menziarahi para ulama? Berikut dalil yang disampaikan oleh para ulama ahli hadis:
ﻓﺴﺄﻝ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺪﻧﻴﻪ ﻣﻦ اﻷﺭﺽ اﻟﻤﻘﺪﺳﺔ ﺭﻣﻴﺔ ﺑﺤﺠﺮ "، ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻓﻠﻮ ﻛﻨﺖ ﺛﻢ ﻷﺭﻳﺘﻜﻢ ﻗﺒﺮﻩ، ﺇﻟﻰ ﺟﺎﻧﺐ اﻟﻄﺮﻳﻖ، ﻋﻨﺪ اﻟﻜﺜﻴﺐ اﻷﺣﻤﺮ»
"... Maka menjelang wafatnya Musa meminta kepada Allah agar didekatkan ke Baitul Maqdis, sedekat lemparan batu. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Andai aku disana akan kutunjukkan kubur Musa pada kalian, di pinggir jalan di gundukan pasir merah" (HR al-Bukhari)
Dari hadis ini guru Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, yaitu Al-Hafidz Al-Iraqi berkata:
ﻭﻓﻴﻪ اﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﻗﺒﻮﺭ اﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻟﺰﻳﺎﺭﺗﻬﺎ ﻭاﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﺤﻘﻬﺎ، ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻟﻘﺒﺮ اﻟﺴﻴﺪ ﻣﻮﺳﻰ - ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼﻡ - ﻋﻼﻣﺔ ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ ﻓﻲ ﻗﺒﺮ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻋﻨﺪ اﻟﻨﺎﺱ اﻵﻥ ﺑﺄﻧﻪ ﻗﺒﺮﻩ ﻭاﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ اﻟﻤﻮﺿﻊ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﺃﺷﺎﺭ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﻨﺒﻲ - ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺴﻼﻡ
"Di dalam hadis ini terdapat anjuran mengetahui makam-makam orang saleh untuk diziarahi dan memenuhi haknya. Nabi shalallahu alaihi wasallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa alaihi salam yang ada di makamnya yang populer di kalangan umat saat ini, bahwa itu adalah makam Nabi Musa. Secara dzahir, tempat tersebut adalah yang diisyaratkan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam" (Tharh At-Tatsrib 3/303)