Makna Qadam (Kaki) Allah
❓ Bagaimana Cara Memahami Hadits Tentang : Qodam (Telapak Kaki) Allah Dimasukkan Ke Dalam Neraka
✅ Pertama, saya akan awali dengan sebuah informasi yang kita ketahui bersama, yaitu julukan RUH ALLAH bagi Nabi Isa. Disebutkan didalam hadits:
صحيح البخاري 6/ 2727:
وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِعِيسَى فَإِنَّهُ رُوحُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ
“Akan tetapi pergilah kalian kepada ISA, sesungguhnya dia adalah RUH ALLAH dan KALIMAT-NYA”
Meskipun Isa disebut RUH ALLAH, akan tetapi dia (Isa) adalah makhluk.
✅ Kedua, saya akan tambahkan informasi yang juga kita ketahui bersama, yaitu julukan YAMIN (Tangan Kanan) ALLAH bagi Hajar Aswad. Disebutkan didalam hadits:
القسم الثاني من المعجم الأوسط للطبراني 2/ 1008 بترقيم الشاملة آليا:
عن ابن عَبَّاس، قال: "الحَجَرُ الأَسْوَد يَمِين الله في الأَرْضِ يُصَافِحُ بِهَا عِبَادَهُ "
“Dari Ibnu Abbas, dia berkata “Hajar Aswad adalah TANGAN KANAN ALLAH di bumi. Dia menyalami hamba-hambaNya dengannya”
Meskipun Hajar Aswad disebut TANGAN KANAN ALLAH, akan tetapi dia (Hajar Aswad) adalah makhluk.
Saya kira, sampai disini sudah dapat dipahami apa itu “Kaki Allah” yang kelak di akhirat akan masuk neraka.
✅ Selanjutnya. Sebelum kita membaca informasi tentang cara memahaminya, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu hadits tentang telapak kaki Allah tersebut:
صحيح البخاري 6/ 138:
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «يُلْقَى فِي النَّارِ {وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ} حَتَّى يَضَعَ قَدَمَهُ، فَتَقُولُ: قَطْ قَطْ»
“Dari Anas RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda “Dilemparkan kedalam neraka, dan ia (neraka) berkata “Apakah masih ada tambahan?” Hingga Allah meletakkan QADAM (TELAPAK KAKI) NYA (ke dalam neraka), lalu ia (neraka) berkata “Cukup! Cukup!”
Sebagian orang mengira bahwa TELAPA KAKI ALLAH yang disebutkan didalam hadits itu adalah TELAPAK KAKI ALLAH dalam makna yang sama dengan telapak kaki manusia, yaitu telapak kaki anggota badan manusia. Padahal setiap kata yang diidlofahkan kepada Allah belum tentu adalah bagian dari Allah.
👉 Isa disebut Ruh Allah bukan berarti Isa adalah bukan makhluk dan benar-benar adalah ruh yang menjadi bagian dari Dzat Allah atau SifatNya.
👉 Hajar Aswad disebut Tangan Kanan Allah bukan berarti Hajar Aswad adalah bukan makhluk dan benar-benar adalah tangan yang menjadi bagian dari Dzat Allah atau SifatNya.
👉 Maka, demikian pula sesuatu yang disebut Qadam Allah (telapak kaki Allah). Bukan berarti Qadam Allah adalah bukan makhluk dan benar-benar adalah telapak kaki yang menjadi bagian dari Dzat Allah atau SifatNya.
Sebagian orang menyangka bahwa dalil-dalil yang secara dzahir menginformasikan bahwa Allah punya wajah, mata, tangan, kaki, betis, telapak kaki dan lain sebagainya adalah mesti dipahami sesuai dzahirnya sehingga mereka menyangka bahwa Dzat Allah itu tersusun dari bagian-bagian berupa wajah, mata, tangan, kaki, betis, telapak kaki dan lain sebagainya itu.
Tahukah Anda bahwa kelompok yang meyakini demikian itu adalah kelompok Syiah Hisyamiyyah sebagaimana keterangan berikut:
العرش وما روي فيه ص179:
فالهشامية يقولون: "إن الله جسم ذو أبعاض، له قدر من الأقدار، ولكن لا يشبه شيئا من المخلوقات، ولا يشبهه شيء"
“Kelompok (Syiah) Hisyamiyyah berkata “Sesungguhnya Allah adalah jisim yang memiliki beberapa anggota badan, memiliki ukuran dari ukuran-ukuran. Akan tetapi Allah tidak menyerupai sesuatu apapun dari makhluk-makhluk, dan tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya”
Kelompok Hisyamiyyah ini meyakini bahwa Allah itu jisim tapi jisim Allah tidak sama dengan jisim makhluk. Allah punya anggota badan tapi anggota badan Allah tidak sama dengan anggota badan makhluk. Ini adalah aqidah sesat kaum musyabbihah dan mujassimah yang ditolak oleh seluruh ulama ahlussunnah. Semoga abang Dadan Lesmana bisa keluar dari gelapnya aqidah Hisyamiyyah ini. Allaahumma aamiin...
Lalu bagaimana cara yang benar untuk memahami hadits bahwa Allah meletakkan telapak kakinya ke dalam neraka? Simak keterangan berikut, dan semoga keterangan ini bisa membuat hati dan pikiran Anda tenang:
مشكل الحديث وبيانه ص386:
إِمَّا أَن يكون على معنى إِضَافَة الصّفة إِلَيْهِ فَهَذَا مِمَّا يمْنَع مِنْهُ الْخَبَر لِأَنَّهُ قَالَ فِيهِ فَيَضَع فِيهَا قدمه وَقدم الصّفة لَا يجوز وصفهَا بِالْوَضْعِ فِي الْمَكَان وَأما قدم الْجَارِحَة فمما لَا يَلِيق بِاللَّه سُبْحَانَهُ لإستحالة أَن يكون أَجزَاء مبعضة وأجساما متركبة وَقد بَينا فَسَاد ذَلِك فِيمَا قبل فَلم يبْق إِلَّا أَن معنى الْقدَم الَّذِي أضيف إِلَيْهِ فِي هَذَا الْخَبَر بِمَعْنى الْخلق وَالْملك على أحد الْوَجْهَيْنِ اللَّذين ذكرنَا تأويلهما أَو على معنى مَا قَالَه النَّضر بن شُمَيْل أَن ذَلِك على معنى مَا تقدم فِي علم الله مِمَّن يكفر بِهِ من خلقه
“Adapun jika hadits itu (hadits tentang Telapak Kaki Allah) atas makna penyandaran sifat pada Allah, maka ia termasuk khobar yang dicegah atas makna ini karena dalam hadits itu disebutkan “Maka Dia meletakkan telapak kaki-Nya” jika ini sifat maka tidak boleh menyifati sifat dengan peletakan pada tempat. Dan, adapun telapak kaki anggota badan maka ini termasuk yang tidak layak bagi Allah Subhanah karena kemustahilan adanya Allah itu berupa susunan-susunan, bagian-bagian dan jisim-jisim yang tersusun. Dan sungguh kami telah menjelaskan kerusakan aqidah itu pada keterangan sebelumnya. Maka tidak tersisa lagi (cara memahaminya) kecuali sesungguhnya makna telapak kaki yang disandarkan kepada Allah didalam hadits tersebut adalah dalam makna bahwa ia adalah MAKHLUK atau SATU MALAIKAT atas salah satu dari dua penakwilan yang sudah kami sebutkan. Atau, atas makna sebagaimana yang dikatakan oleh Nadlor bin Syumail bahwa QODAM (telapak kaki) Allah itu atas makna sesuatu yang TAQODDAM (berlalu) didalam ilmu Allah yaitu orang-orang kafir dari makhluk-Nya.”
📌 Kesimpulannya:
1. Qodam Allah bukan sifat Allah karena sifat Allah mustahil diletakkan pada selain Allah
2. Qodam Allah bukan sebagian dari Dzat Allah karena mustahil Allah tersusun dari dzat-dzat
3. Qodam Allah adalah makhluk yang dimasukkan ke dalam neraka, atau malaikat yang ditugaskan ke dalam neraka supaya neraka penuh sebagai jawaban atas permintaan neraka saat berkata “Apakah masih ada tambahan?”
4. Qodam Allah adalah orang kafir yang TAQODDAM (telah berlalu) pengetahuan Allah atas hal itu
Wallahu a’lam