Melihat Allah di Akhirat, Apakah dengan Mata Kepala Saja?
Ulama Asya'irah sepakat bahwa Allah akan bisa dilihat oleh orang mukmin saat di Akhirat. Dalam al-Ibanah, imam Abul Hasan al-Asy`ari menyatakan:
ولما قرن الله النظر بذكر الوجه ؛ أراد نظر العينين اللتين في الوجه
"Dan tatkala Allah -Subhanah- menyandingkan penyebutan kata penglihatan dengan kata wajah, maka berarti yang Allah -Subhanah- maksudkan adalah penglihatan kedua mata yang ada di wajah".
Dalam kitabnya Mujarrad Maqalat Abil Hasan al-Asy`ari, Ibnu Furak juga menjelaskan pandangan imam Abul Hasan dalam hal ini, yaitu:
وكان يقول : إنه ينظر إليه بالنظر الذي في الأعين
"Dan (Abul Hasan al-Asy`ari) dulu juga menyatakan, bahwa Allah -Subhanah- bisa dilihat dengan menggunakan penglihatan yang ada pada mata (kepala)".
Namun mereka berselisih pendapat terkait apakah dengan mata kepala saja, atau seluruh bagian badan ikut melihat-Nya. Ini menjadi perbincangan di kalangan ulama Asyairah dalam tiga pendapat.
Pertama, ada yang berpendapat bahwa yang melihat Allah -Subhanah- kelak hanya "al-Hadaq" (biji mata/kornea) saja.
Pendapat kedua, mengatakan bahwa semua bagian wajah ikut melihat Allah -Subhanah-.
Pendapat ketiga, mengatakan bahwa seluruh bagian tubuh manusia bisa kelak melihat Allah -Subhanah-, tidak hanya biji mata atau juga seluruh bagian wajah.
Keragaman pendapat ini dipaparkan oleh imam al-Bajuri dalam kitabnya Tuhfatul Murid Syarh atas Jauhrah at-Tauhid, dengan redaksi seperti berikut ini:
قوله : (بالأبصار) ظاهره أن الرؤية بالحدق فقط ، وهو أحد أقوال ثاثة ، وثانيها : أنها بجميع الوجوه لظاهر قوله تعالى : (وجوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة) ، ثالثها : أنها بكل جزء من أجزاء البدن ؛ كما نقل عن أبي يزيد البسطامي.
Wallahua`lam