Apa Hukum Puasa setelah Nisfu Sya'ban?
Puasa setelah tanggal 15 Sya'ban (berarti tanggal 16 Sya'ban sampai bulan Sya'ban berakhir) hukumnya Haram menurut Mazhab Syafi'i.
Ada beberapa lafazh yang membicarakan larangan puasa setelah pertengahan bulan Sya’ban.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا
“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 738 dan Abu Daud no. 2337)
Dalam lafazh lain,
إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلاَ صَوْمَ حَتَّى يَجِىءَ رَمَضَانُ
“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tidak ada puasa sampai dating Ramadhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1651)
Dalam lafazh yang lain lagi,
إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنِ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ
“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tahanlah diri dari berpuasa hingga dating bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad)
Sebenarnya para ulama berselisih pendapat dalam menilai hadits-hadits di atas dan hukum mengamalkannya.
Di antara ulama yang menshahihkan hadits di atas adalah At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ath Thahawiy, dan Ibnu ‘Abdil Barr. Bahkan Albani pun menshahihkan hadist ini.
Adapun ulama dari selain madzhab Syafi'i tetap memperbolehkannya. Kendati demikian, mereka tetap melarang puasa di hari syak, yakni 1-2 hari sebelum masuknya Ramadan.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan, “Mayoritas ulama [selain ulama Mazhab Imam Syafi’i] membolehkan puasa sunah setelah Nisfu Sya’ban dan mereka melemahkan hadits larangan puasa setelah Nisfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadis tersebut munkar
Hal yang Mendasari Larangan Puasa setelah Nisfu Sya'ban
Ada beberapa alasan para ulama mengeluarkan kesimpulan larangan puasa setelah Nisfu Syaban. Pertama, hari-hari setelah Nisfu Syakban dianggap hari syak, yakni waktu ragu antara masih tergolong bulan Syakban atau sudah masuk Ramadan.
Kedua, larangan puasa setelah Nisfu Syaban didasarkan pada pertimbangan agar umat muslim menyiapkan tenaga dan kekuatan jelang Ramadan.
Puasa yang Boleh Dikerjakan setelah Nisfu Sya'ban
Ada beberapa pengecualian keharaman ini, dalam artian puasa ditanggal 16 dan seterusnya tidak haram, dan bahkan tidak makruh. Hal ini sesuai dengan hadist berikut:
“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa 1 hari atau 2 hari kecuali jika ia bertepatan dengan puasa yang biasa dikerjakan oleh salah seorang dari kalian.”
Syekh Wahbah Al-Zuhaili, seorang ulama asal Suriah, dalam kitab Fiqhul Islami wa Adillatuhu memberi penjelasan berikut.
“Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, puasa setelah nisfu Sya’ban diharamkan karena termasuk hari syak, kecuali ada sebab tertentu, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan puasa dahar, puasa daud, puasa senin-kamis, puasa nadzar, puasa qadha’, baik wajib ataupun sunnah, puasa kafarat, dan melakukan puasa setelah nisfu Sya’ban dengan syarat sudah puasa sebelumnya, meskipun satu hari Nisfu Sya’ban. Dalil mereka adalah hadis, ‘Apabila telah melewati nisfu Sya’ban janganlah kalian puasa’.”
Berikut adalah beberapa puasa yang boleh dikerjakan setelah nisfu Sya'ban:
1. Puasa Dahr atau puasa menahun, disini disebut puasa Dalail. Jadi yang berpuasa setiap hari, semisal melakukan amalan, maka tanggal 16 dan seterusnya tetap boleh puasa.
2. Puasa Daud, yaitu sehari puasa sehari tidak. Jadi yang berpuasa daud, misal tanggal 14 puasa, tanggal 15 tidak, tanggal 16 nya boleh puasa, begitu juga tanggal 18, 20, 22 dan seterusnya.
3. Puasa Senin Kamis. Misal orang yang biasa puasa Senin Kamis, dan Kamisnya bertepatan tanggal 16, juga boleh puasa, hukumnya tetap sunah. Begitu juga Senin depannya dan seterusnya.
4. Puasa Ayyam Suud. Yaitu puasa 3 hari akhir bulan Hijriyah, 28, 29, dan 30.
[Nomor 1, 2, 3 dan 4 ini adalah puasa² sunah kebiasaan, atau dibahasakan puasa wird dalam kitab². Maka tetap sunah]
5. Puasa Nadzar. Jadi misal ada orang punya nadzar, kalau berhasil melakukan sesuatu maka akan puasa, dan ternyata bertepatan setelah nisfu Sya'ban, misal tanggal 20 Sya'ban, maka boleh puasa. Beda kalau sudah tau masuk nisfu Sya'ban, baru nadzar, maka tidak sah.
6. Puasa Qodho', baik qodho' Ramadan atau qodho' puasa sunah yang memang sunah untuk di qodho'. Kalau qodho' Ramadhan ini memang wajib di lakukan, maka walaupun sudah melewati nisfu Sya'ban, tetap wajib qodho', jangan sampai datang Ramadhan belum qodho'.
7. Puasa Kafaroh.
[Nomor 5, 6, dan 7 ini adalah puasa wajib, maka tetap wajib]
8. Puasa yang sambung dengan hari sebelumnya. Jadi misal tanggal 15 puasa, maka tanggal 16 boleh puasa juga. Dan ketika 16 itu puasa, maka 17 boleh puasa juga. Dan ketika terputus satu hari saja tidak puasa, maka seterusnya tidak boleh puasa sampai bulan Sya'ban berakhir, kecuali ada salah satu sebab² diatas.
Referensi :
Busyrol Karim bi Syarh Masa'il Ta'lim karya Syaikh Sa'id Ba'ali Ba'asyin Al-Hadromi, 556, Darul Minhaj
(إلا لورد)، كأن اعتاد صوم الدهر، أو صوم يوم وفطر يوم، أو يوم الإثنين، أو السود، فصادف ما بعد النصف، أو يوم الشك، فيصح صومه؛ لخبر الصحيحين بذلك.
وتثبت العادة بمرة (أو نذر) مستقر في ذمته، كأن نذر صوم كذا فوافق النصف الثاني من شعبان، بخلاف ما لو نذر صوم غد وهو عالم أنه يوم شك مثلاً .. فلا ينعقد، بخلاف ما لو لم يعلم ذلك.
(أو قضاء) ولو لنفل يشرع قضاؤه (أوكفارة) فيجوز صوم ما بعد النصف عنها ولو يوم الشك، ولا كراهة في صوم ما ذكر؛ لأن له سبباً فجاز كنظيره من الصلاة في الأوقات المكروهة، ومن ثَمَّ يأتي في التحري هنا ما مرَّ ثمَّ، ومسارعة لبراءة ذمته في غير الأول.
(أو وصل) صوم (ما بعد النصف بما قبله) ولو بيوم الخامس عشر وإن اقتضى خبر: "إذا انتصف شعبان .. فلا تصوموا" حرمة صومه؛ حفظاً لأصل مطلوبية الصوم.